Pages

Showing posts with label About Life. Show all posts
Showing posts with label About Life. Show all posts

Wednesday, 5 January 2011

Agar Istri Bersahabat dengan Mertua


by RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF on Saturday, 25 September 2010 at 17:25
 
 
ADA kesan buruk dalam relasi seorang wanita atau istri dengan mertuanya (orangtua suaminya). Banyak wanita meletakkan hubungannya dengan mertuanya dalam relasi yang antagonis. Sering kita menemukan para istri yang menaruh curiga dan prasangka buruk kepada ayah atau ibu mertuanya dalam banyak hal.

Tak heran jika banyak wanita, sebelum memasuki kehidupan rumah tangga, menyusun di dalam benaknya berbagai cara yang mesti ditempuhnya dalam menghadapi ayah dan ibu mertuanya nanti, supaya dia dapat menghindari kelicikan-kelicikan keduanya. Dia akan senantiasa mengawasi setiap kata yang diucapkan ayah atau ibu mertuanya dan mengawasi setiap gerak-gerik yang dilakukannya serta menyusun cerita-cerita dan isu-isu mengenainya.

Sehingga kemudian terjalinlah benang-benang kebencian di antara keduanya, lantas terjadilah pembangkangan dan kedurhakaan terhadap orangtua. Tak ayal, hilanglah keberkahan dan kebaikan dalam berumahtangga. Yang menjadi penyebab kurang harmonisnya hubungan mertua-menantu, menurut Anna Surti Ariani, seorang psikolog keluarga –sebagaimana dikutip dari situs Radio Nederland Wereldomroep— pada saat kita mencintai seseorang, itu tidak satu paket dengan mencintai orang tua dia. Masih menurut Anna Surti, friksi paling sering adalah antara menantu perempuan dan mertua perempuan. Dan friksi itu bertambah kalau sudah menyangkut pendidikan anak atau cucu.
...friksi paling sering adalah antara menantu perempuan dan mertua perempuan. Dan friksi itu bertambah kalau sudah menyangkut pendidikan anak atau cucu...
Tentunya, hal-hal yang tidak diinginkan seperti di atas haruslah dilenyapkan demi kehidupan rumah tangga yang bahagia. Di dalam bukunya, Kaifa Takuni Imra`ah Jamilah wa Mahbubah, Ru’a Yusuf menuliskan beberapa tips bagi seorang istri agar bisa menjalin hubungan harmonis dan komunkasi baik dengan mertuanya, yaitu:
  1. Dia harus mengusir citra buruk tentang ibu mertuanya dari benaknya dan memosisikan ibu suaminya itu tak ubahnya ibunya sendiri. Jika suatu hari ibu mertuanya berbuat kesalahan kepadanya, maka dia harus memperlakukannya sama seperti dia memperlakukan ibunya sendiri, ketika ibunya bersalah kepadanya.
  2. Dia tidak boleh menceritakan kepada suami segala sesuatu yang terjadi antara dia dengan ibu suaminya sambil menangis atau bercucuran air mata untuk menarik simpati suaminya. Karena dikhawatirkan setan akan mengintervensi sang suami dengan membisikkannya bahwa ibunya bertindak zalim dan sewenang-wenang, dan memicu kedurhakaan.
  3. Seorang istri yang baik tidak akan melarang suaminya untuk memberikan sesuatu kepada ibunya (ibu mertuanya). Bahkan dia akan mendorong suaminya untuk banyak memberi kepadanya ibunya dan dia pun akan berusaha memberi mertuanya berbagai pemberian dan hadiah berharga lainnya.
  4. Jika dia mengunjungi ibu mertuanya, ada baiknya dia menampakkan perhatian dengan membawa masakan atau makanan. Dia merasa enggan menjadi tamu yang merepotkan atau menyusahkan.
  5. Istri yang cerdas adalah istri yang mampu menawan hati ibu mertuanya dengan kebaikan sikapnya dan kemuliaan akhlaknya. Jika di rumah ibu mertuanya ada tamu atau orang-orang diundangnya untuk datang ke rumahnya, maka dia akan membantu ibu mertuanya, dan tidak hanya duduk seperti layaknya tamu kehormatan.
  6.  Istri yang terhormat selalu mengajari anak-anaknya agar menghormati serta mematuhi nenek dan kakek mereka. Dia akan menanamkan kecintaan dan kasih sayang kepada keduanya di hari mereka, serta membiasakan mereka untuk mengunjungi keduanya.
  7.  Demikian juga, dia senantiasa mengajari anak-anaknya tata krama pada saat berkunjung ke nenek dan kakek mereka. Dia tidak akan membiarkan anak-anaknya membuat mertuanya merasa tidak nyaman. Dengan demikian, sang mertua pun selalu berharap agar mereka dikunjungi cucu-cucu mereka setiap hari.
  8. Apabila ternyata dia dan mertuanya sama-sama memiliki permintaan kepada suaminya, kira-kira apa yang akan dilakukan istri? Tentunya dia tidak akan mengubah rumahnya menjadi neraka sampai suaminya mau memenuhi permintaannya terlebih dulu sebelum memenuhi permintaan mertuanya. Dia pasti akan menginstruksikan suaminya untuk mendahulukan permintaan ayah dan ibunya. Pastinya dia tidak akan menyulut api kemarahan dan kebencian serta mengerek bendera boikot antara dirinya dengan suami hanya karena permintaannya terakhir dipenuhi. Karena jika mertuanya melihat sikap mengalah, itsar (mendahulukan orang lain), dan penghormatan menantunya, maka keduanya tentu akan mengalah dalam banyak hal nantinya.
...solidaritas seorang menantu itu harus lebih besar, karena bagaimana pun faktanya, si menantu hidup dalam masa yang berbeda dengan mertuanya...
Dengan demikian, solidaritas seorang menantu itu harus lebih besar. Karena bagaimana pun faktanya, si menantu hidup dalam masa yang berbeda dengan mertuanya, sehingga menyebabkan terjadinya salah persepsi atas perbedaan-perbedaan yang dianggap tidak sopan atau diasumsikan secara negatif. Berinteraksilah dengan mertua sebagaimana berinteraksi dengan orangtua sendiri. Perlakukanlah mertua seperti memperlakukan orangtua sendiri.

Semua yang dilakukan oleh orangtua suami terkadang hanyalah cemburu belaka, karena anak yang sedianya senantiasa selalu memperhatikannya, kini terbagi perhatiannya, bahkan kadang perhatian itu menjadi lebih sedikit terhadap kedua orangtuanya, malah lebih banyak kepada kita, sebagai istrinya. Maka ingatkanlah suami untuk selalu memperhatikan orangtuanya yang sudah membesarkannya. [ganna pryadha/voa-islam.com]

Alah! Perempuan Pakai Tudung Pun Perangai Buruk Nak Buat Apa!

Alah! Perempuan Pakai Tudung Pun Perangai Buruk Nak Buat Apa!

by Saya sayang Islam on Saturday, 04 September 2010 at 19:54


As-Salaamu ‘alaikum…

Kebanyakan wanita bertudung atau yang sentiasa berusaha menjaga auratnya sering menghadapi perlian seperti di atas. Maka berikut adalah beberapa jawaban saya yang mungkin dapat membantu rakan-rakan muslimah bagi menjawab perlian tersebut. Saya letakkan dalam bentuk point supaya lebih mudah dan kelihatan ringkas.

1 – Kebaikan seseorang tidaklah dinilai berdasarkan akhlak, perangai, mahupun dressing semata-mata. Tapi, dinilai bermula dari dasar akidah dan keimanan seseorang itu kepada Allah. Dinilai mengikut seberapa usaha untuk mereka taat kepada Allah. Inilah aspek pertama yang sewajarnya kita tanamkan dalam diri masing-masing yang mengaku sebagai muslim.

2 – Suruhan pemakaian tudung dan menutup aurat bukanlah untuk fesyen atau suka-suka. Tapi adalah kerana ianya merupakan perintah Allah. Berakhlak baik juga merupakan suruhan dan tuntutan sebagai muslim. Tidak kira siapa saja insan yang bergelar muslim, maka dia wajib menutup aurat seperti yang diperintahkan dan berusaha memiliki akhlak yang baik.

3 – Setiap muslim itu tidak terlepas dari setiap kewajibannya. Biarpun anda seorang pembunuh, perompak, penyamun, penzina, mahupun kaki lepak. Anda sebenarnya tidak pernah terlepas untuk menunaikan kewajiban bersolat! Sekiranya anda telah sah muslim. Jangan ingat andai anda seorang yang jahat, maka anda terlepas dari kewajiban solat? Sungguh tidak sama sekali. Jika anda jahat (eg. Pembunuh, perompak…) sekalipun, anda tetap wajib jalankan perintah Allah, bahkan wajib segera tinggalkan kejahatan anda tersebut. Begitu jugalah dengan kewajiban bertudung! Biarpun anda seorang yang jahat dalam hal yang lain, jangan ingat anda patut tinggalkan penutupan aurat. Anda tidak pernah terlepas dari kewajiban itu, walaupun anda menganggap diri anda masih tidak layak bertudung… sungguh, itu semua hanya imaginasi sampah anda sahaja.

4 – Perangai yang tidak baik adalah kesalahan. Tidak menutup Aurat juga satu kesalahan. Jika anda tinggal dua-dua (tutup aurat dan berakhlak baik), anda telah lakukan dua kesalahan. Jadi, berusahalah untuk lakukan dua-dua.

5 – Mereka yang mengatakan statement “Alaah! Perempuan Pakai Tudung Pun Perangai Buruk!”, Sebenarnya, akhlak andalah yang rosak. Malahan ditambah dengan satu lagi kerosakan, iaitu kerosakan minda dan jiwa. Anda sebenarnya telah memperlekehkan hukum Allah. Anda juga telah memperlekehkan insan yang sedang berusaha mentaati perintah Allah (dalam bab tutup Aurat). Apakah anda perasan bahawa anda sudah lebih baik berbanding insan yang menutup aurat tersebut apabila anda berani melafazkan kalimat keji seperti itu, sedangkan anda sendiri membiarkan aurat anda terbuka?! Kenapa anda mencerca insan yang berusaha untuk memakai pakaian yang disarankan oleh Allah? Apakah pakaian anda sudah lebih baik berbanding apa yang telah Allah tetapkan? Anda mahu lawan Tuhan?

6 – Penilaian baik dan buruk, atau cantik dan tidak cantik… semuanya adalah tidak muktamad pada kacamata hati dan fikiran manusia. Tetapi, ia mestilah berpandukan kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Kita tiada hak sedikitpun dalam menetapkan syari’at2 tertentu di dalam agama dan kehidupan ini. Bahkan, kitalah yang wajib menundukkan hati kita kepada-Nya. Allah berhak menetapkan segalanya. Allah juga sebenarnya telah amat banyak memberikan kelongaran kepada kita. Namun, kebanyakan manusia itu sahaja yang sememang tabiatnya gemar melampaui batas. Berbahagialah kepada sesiapa yang berusaha sedaya upaya dalam mentaati Allah.

7 – Adakah, manusia yang gagal dalam sesuatu ketaatan itu wajar meninggalkan ketaatan yang lainnya juga? Adakah manusia yang bergelar pembunuh itu wajar meninggalkan solatnya? Adakah insan yang belum sempurna akhlaknya itu tidak sepatutnya menutup aurat? Adakah mereka orang yang tidak cukup puasanya itu tidak perlu membayar zakat? Saya katakan… anda siapa untuk mengatakan mereka tidak layak? Bahkan, solat itu tuntutan ke atas seluruh umat Islam. Begitu juga penutupan aurat.

8 – Sewajarnya, dalam keadaan seperti ini… kita sewajarnya saling nasihat-menasihati. Agar dapat menambahkan kesempurnaan diri dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Melainkan ada kerosakan di dalam hati dan jiwanya, pasti tindakannya hanya mahu memberontak dan tidak senang dengan orang lain dan terhadap apa yang diturunkan oleh Allah kepada-Nya. Ketahuilah, wujudkah manusia yang benar-benar sempurna?

Ayuh, bersegeralah kita kepada syurga Allah. Burulah redha Allah dengan ilmu yang sahihah!

"Sesiapa yang memakai pakaian demi kemasyhuran, maka Allah akan memakaikannya pada hari Qiamat yang semisal, kemudian membakarnya dengan api neraka (Sunan Abu Daud: 4029. Di-nilai hasan oleh al-Albani)

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (al-A’raaf 7: 26)

Al-Faqir illallah Nawawi Bin Subandi as-Salafy wal-Atsary

Source: http://an-nawawi.blogspot.com/

Anda disarankan untuk membaca artikel ini;

Tajuk: "Hukumlah Dengan Keluasan Islam Bukan Sentimen"

Klik Link: http://drmaza.com/arkib_utusan/?p=16

Sekiranya anda terdapat pertanyaan isu Agama, bertanya di sini;

Klik Link: http://al-fikrah.net/


note dari akhi "Abu Muawiyah Dua".
cantik kan?

An advice at death about direction in Life

An advice at death about direction in Life

by Amina Isjhaz on Saturday, 04 September 2010 at 15:04
 
 
An advice at death about direction in Life

It is reported that when Al-Hasan Al-Basrî was on his deathbed, some of his companions came to him and said:

O Abû Sa’îd, offer us some words you can benefit us with. He replied, “I will equip you with three words, then you must leave me to face what I am facing.

Be the farthest of people from those things you have been forbidden, and be the most involved of people in the good you have been commanded to do; and know that the steps you take are two steps: a step in your favor and a step against you, so be careful where you come and where you go.

”Abû Na’yam, Hilyah Al-Awliyâ` 2:154ل 

Birds of a feather flock together..

....

by Allhumdulilah For Everything! on Thursday, 09 September 2010 at 14:51
It is very important for every Muslim to make sure that his choice of friends and the company he keeps is correct. It has been proven through experience that habits and behaviour of friends and associates slowly manifest in an individual.

Without realizing, a person begins to adopt the style and behaviour of his friends. We are all witness to this fact. Sadly, I can recall many incidents where those who were pious, religious and of good character lost all their good qualities because they kept company and associated with an inappropriate circle of friends.

I have also seen others who were drowning in sin and evil, who underwent a complete revolution in their lives after adopting the company of a pious person of huge moral standards.

Rasullullah has advised, “A person is on the way of his life friend. Therefore, he should think very carefully whom he is making a friend with.” (Tirmidhi, Abu Dawood)


We need friends who are sincere, genuine and true and also true in their friendship. Those who care for our well-being from every aspect are true friends.

Whereas on the other hand, worldly friends are not only a waste of time, but also on the day of Qiyamah, they will be a means of destruction.

The Quran says:

“All friends on the day of Qiyamah will be enemies of one another except the God fearing.”

(Mutaqeen) (43:67)

Here, the Quran is not saying that friends will not help or benefit each other on that day, it is saying something much stronger, that friends who were not God-fearing will be the enemies of each other on the day of Qiyamah.

Friends in the hereafter will regret making irreligious people their friends.

Allah Taala says in the Quran, “Ah, woe to me! Would that I had never taken so-and-so as a Khaleel (intimate friend)! He indeed let me astray from the reminder (This Quran) after it and came to me. And Shaytaan is ever a deserter to man (in the hour of need).” (25; 28-29)

This will be the cries of the people.

Further, Allah says:

“Our Lord! These misled us, so give them a double torment of the fire. He will say for each one is a double torment but you know not.” (7:38)

My dear friends, today we feel proud of having an elder friend who follows the path of evil. We forget that this role model of ours who is teaching us to sell drugs, to take drugs, to bully and oppress people, disobey parents and to fall prey to evil desires, is in fact taking us to hell!

Our true and only friend should be Allah but in order to attain such high stage, one needs to make good, pious people his friends.

A great point I would like to raise is the amount we hurt the hearts of our parents? How much pain do they suffer because of us?

In this day and age, friends have become more precious and valuable than our parents. For our friends, we are ready to sacrifice everything and everybody. However, one needs only to experience a tragedy to recognize a true friend.

For example: Go and sit in prison (or without having money) for a while and see how many friends come and visit. It is here that one appreciates the true love of parents.

After being sentenced to jail, the convict holds tight to his parents and cries, and says that now I realize you are only my true friends and you will see many changes in my life after I come out. This is said after going to jail because it is only our families that care enough to visit.

If friends come, then how many times do they return? They come once, twice, at the most three times, then you then find yourself sitting in jail alone, crying and you will come to understand that none is interested in coming to see you except your parents, brothers and sisters.

The poor father who you used to swear at and give abuse to. That same father who you did not even want to see or talk with, visits you every week. He takes up the cost of the lawyer, worries about the cause, and your well being.

Similarly the mother suffers sleepless nights. They do everything for you despite your torturing them in the past.

My brothers, please, for Allahs sake, pay attention to these facts and realities I am trying to put forward to you.

Beware! The prison sentence may be over in a few months, years, but the prison sentence of the hereafter may be eternal.

In the Quran, it states:

“That day shall man flee from his brother, from his mother and his father. And from his wife and his children. Every man that day will have enough to make him careless of others.” (80:34:37)

Please give this little advice of mine space in your heart. I am saying these words for our benefit with heartfelt concern from the depth of my heart.

May Allah save us all and give us the ability to act upon whatever we have just read.

Part 2:

Muslim College Life:

Dating, Drinking and Deen


Freedom. Young people live for the day when they can move out of the house and go to college and finally be free. Freedom from their parents, from restrictions on their lifestyle, from everyone telling them what to do.

This is why in college you find a whole generation that does what they want. Life's short they say, let's enjoy ourselves while we can.

So it goes for Muslims. In college you find the most amazing things, Muslims who don't pray, Muslims who date , go out to parties and drink.

Why is this happening?

For one, when students go off to university they finally realize that what they beleived in was blind. Religion becomes like a fairytale, when they got old enough, they knew better than to believe in it.

Most have little knowledge about Islam and have maybe memorized the right rituals to get by. Why beleive something on faith, they ask. After all we cannot see heaven or hell. How do we know Islam is right anyway?

Islamic culture to them means marrying someone they never knew. It means arranged marriages and never hanging out or having fun.

For girls Islamic culture has even less to offer. It would mean double standards or having to serve a husband the rest of her life.

The western alternative to this looks alot more attractive.

In western culture "love and romance" are supposedly everywhere. Everyone is out looking for love freely. Meeting someone, going out, seeking pleasure sounds alot better.

But what about the downside? For love at first sight, you need to have the right image, the right hair, the right clothes.

Girls have to aspire to be like the latest supermodels, they have to hold back age. Who's going out with who, what are my friends thinking, what will happen if I don't get the right girl or guy, what is my girlfriend or boyfriend thinking, all become important.

Frustration, desperation, and unhappiness become the norm.

Imagine all the heartache youth would save if they followed the Islamic alternative.

In true Islam, unlike culture, there is no gameplaying. If two people wish to be involved they are both straight with one another.

Unlike what goes on today amongst some Muslims, they both meet each other and make a contract to marry. Women are treated with respect, there is no sexual bombardment like there is in western society. Sex in western culture is also often seen as a vice or a sin of the flesh. But even in religious Islam, sex is seen as natural. As long as it is in the right circumstances, when the two are committed to one another in marriage.

Drinking in college is also the norm unfortunately. If you don't drink or party you're seen as weird. Drinking is cool and a way for people to socialize, meet and have fun. The one who doesn't is less of a person and 'misses out'. Drinking and all the harms that come with it is cut off at the root in Islam. So many problems are avoided, accidents, pregnancy, violence and even rape for example.

In college and in the world, success in life is not seen in terms of religion. It is seen as what other people think, one's careers, how much money they make. If you are religious you must have failed at life. But why do we have this seperation? and this blindness in religion?

The Quran tells us again and again not to have blind faith, not to folllow the religion of our forefathers.

Yet, we as Muslims have stopped thinking. We may think about what our friends or other people will say, but we avoid thinking about the real issues.

We spend so much time on the opposite sex, thinking about careers, money etc, but we forget to think about death and how much of this we will really be able to take with us?

"Every soul shall have a taste of death and only on the Day of Judgement shall you be paid your full recompense.. .for the life of this world is but goods and chattels of deception"

(Quran 3:185)

Shouldn't we take the time to comtemplate what will happen to us after we hit the grave? After all, what is the point of life if we are not accountable for our actions? If there is no creator, what is the point of being honest or good.

If we really look at our life we see that everything is indefinate, getting a job, even living until tomorrow. In fact we could die anytime, this is a definate, the _only_ dead certain thing in our life.

Most of us believe we can make up for our actions later or we can be religious later.

We are gambling.

The chances of our dying today are little, but the stakes are high. Allah reminds us of the importance of this,

"O you who beleive, obey Allah as he should be obeyed, and die not except in a state of Islam"

(Quran3:102)

Each of us needs to decide.

On the Day of Judgement it will be us alone who will be asked about our actions.

"Verily We have revealed the Book to thee in truth, for (instructing) mankind. He, then that receives guidance beinfits his own soul: but he that strays injurs his own soul..."

(Quran 39:41)

This is the true definition of freedom. To learn about Islam and the world openly. To contemplate about life and death. And after learning the truth, obeying the word of God.

"Those on whom knowledge has been bestowed may learn that the (Quran) is the truth from your Lord, and that they beleive therein, and their hearts may be made humbly (open)to it..."

(Quran 22:54)

Once students have this rock-solid intellectual beleif in Islam, the corruptness and falseness of the people around them is clear. The beauty and wisdom of the islamic way, the best alternative is clear. What other's do is of less importance. If others think they were weird to pray or weird to be honest, they would still pray and still be honest because they know their deen.

Our Quran's are left on the top shelves, gathering dust. Sometimes the most it is read is when someone dies. How is this to help, when the guidance comes too late. The Quran is for the living. The path to understanding and following Islam comes from learning first.

How many of us are Muslim, yet have never read the Quran in our native language?

How many of us are Muslim, yet have yet to open a book on hadith or sunnah?

How many of us defend Islam to non-Muslims, but do not follow it ourselves?

May Allah forgive and lead us and all those lost to the straight path.

InshaAllah.

Ameen.

Saturday, 1 January 2011

Aku, tidur dan jihad

By Sunnah Pejuang Sunday, 21 November 2010 at 22:58

Aku tidur, aku tidur, aku tidur
Walau mereka membakar hartaku, aku nyenyak tidur
Walau mereka penjara keluargaku, aku tetap tidur
Walau bangsaku mereka bunuh, aku tidur
Walau negeriku mereka jual, aku tetap tidur,

Aku tidur, aku tidur, aku tidur
Walau kakiku mereka patahkan, aku tidur Walau tanganku mereka potong, aku tidur Walau mereka cungkil mataku, aku tetap tidur
Dengan mata yang sebelah, aku tetap tidur Aku tidur, aku tidur, aku tidur

Walau mereka minum darahku, aku tidur Walau mereka menginjak leherku, aku tetap tidur
Walau rumahku mereka robohkan, aku tidur
Ya, aku masih dapat tidur di bawah robohan itu.

Aku tidur, aku tidur, aku tidur
Sepanjang waktu aku tidur
Ketika waktu shalat tiba, aku masih tidur Pada waktu pagi, aku tidur
Seperti orang yang mati aku tidur

Aku tidur, aku tidur, aku tidur
Kehormatan wanita mereka langgar, tapi aku tidur,
Mereka menjual ……tapi aku tidur
Mereka merampas tanah air, namun aku tetap tidur
Iman lenyap dan aku masih tetap tidur

Aku tidur, aku tidur, aku tidur Orang-orang tua kami mereka usir, tapi aku nyenyak tidur
Anak-anak kami mereka sembelih dan aku tetap tidur

Aku tidur, aku tidur, aku tidur
Al-Quran mereka tinggalkan dan aku tetap tidur
Mereka mengingkari al-Islam, tapi aku tetap tidur
Bahkan mereka mencaci Dienul Islam, tapi aku tidur
Sampai-sampai menggeletak di antara dinding, aku masih nyenyak tidur

Aku tidur, aku tidur, aku tidur
Siang malam aku terus tidur
Akalku dan fikiranku turut tidur
Senjataku adalah lidah, tapi aku tidur
Dan jihadku dengan tidurku: ya, aku tidur Aku tidur, aku tidur, aku tidur
Kalau mereka menghancurkan kau hai Ad- Dienku
Mestinya kujadikan diri tebusan bagimu Tapi aku tidur!

Aku tidur, aku tidur, aku tidur.........

Wahai,muslim sedunia!

Islam adalah negeri kita, tanah air kita, bangsa kita, keluarga dan kerabat kita.
Di belahan bumi manapun syari ’at Islam ditegakkan dan kalimat Allah ditinggikan, maka di sanalah negeri kita tercinta.

Di bagian bumi manapun umat islam berada, maka mereka lah saudara kita dan bangsa kita.
Setiap jengkal tanah di wilayah manapun di muka bumi ini yang dikuasai oleh umat islam maka itulah bagian tanah air kita yang harus selalu kita bela.

Siapa yang tidur dan siapa yang celik? Siapakah yang terus tidur hingga kemuncup semangat jihadnya?
Ingat, mentari hanya malap bila qiamat. Siapa yang 'qiamat' dahulu sebelum tibanya qiamat yang Allah janjikan??!!

Yaa ayyuhal mujahidun, Asy-syiddatasy syiddah..!!

Bangun bangkitlah kalian wahai syababum Muhammad.
Berjuanglah agar Islam terus tertegak!

Takbirrrrrrrrrrr!