Pages

Showing posts with label Ibadah. Show all posts
Showing posts with label Ibadah. Show all posts

Wednesday, 12 January 2011

Baca Tasbih Fatimah.

Baca Tasbih Fatimah.

by Al Tazkirah on Wednesday, 18 August 2010 at 01:07
 
 
Barang siapa yang membaca Tasbih Fatimah, sekiranya dia meninggal dunia malam itu, dia akan dikira sebagai mati syahid. Apa itu Tasbih Fatimah?  Subhanallah 33 X, Alhamdulillah 33 X, Allahuakbar 33 X. 


Berburu Lailatul Qadar

by Catatan Catatan Islami on Friday, 27 August 2010 at 00:26
 
 

Lailatul Qadar adalah malam yang agung di antara sekian malam di bulan suci Ramadhan. Tidak disebutkan kapankah malam itu terjadi.

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS Al-Qadr 97: 1-5)

Paling tidak ada tiga keutamaan yang digambarkan dalam ayat tersebut. Pertama, orang yang beribadah pada malam itu bagaikan beribadah selama 1000 bulan, 83 tahun empat bulan. Diriwayatkan, ini menjadi penggembira umat Nabi Muhammad SAW yang berumur lebih pendek dibanding umat nabi-nabi terdahulu. Kedua, para malaikat pun turun ke bumi, mengucapakan salam kesejahteraan kepada orang-orang yang beriman. Dan ketiga, malam itu penuh keberkahan hingga terbit fajar.

Imam Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda: “Siapa beribadah di malam Lailatul Qadar dengan rasa iman dan mengharap pahala dari Allah, ia akan diampuni dosanya yang telah lalu.”

Diriwayatkan dari Abu Dawud, Nabi Muhammad SAW pernah ditanya tentang Lailatul Qadar, lalu beliau menjawab, “Lailatul Qadar ada pada setiap bulan Ramadhan.” Riwayat Imam Bukhari, dari A’isyah, Nabi Muhamamd SAW bersabda: “Carilah lailatul qadar itu pada malam ganjil dari sepuluh terakhir pada bulan Ramadhan.”

Menurut pendapat yang lain, Lailatul Qadar itu terjadi pada 17 Ramadlan, 21 Ramadlan, 24 Ramadlan, malam ganjil pada 10 akhir Ramadlan dan lain-lain. Jadi, tidak ditemukan keterangan yang menunjukkan tanggal kepastiannya.

Diantara hikmah tidak diberitahukannya tanggal yang pasti tentang Lailatul Qadar adalah untuk memotivasi umat agar terus beribadah, mencari rahmat dan ridla Allah SWT kapan saja dan dimana saja, tanpa harus terpaku pada satu hari saja. Jika malam Lailatul Qadar ini diberitahukan tanggal kepastiannya, maka orang akan beribadah sebanyak-banyaknya hanya pada tanggal itu saja dan tidak giat lagi beribadah ketika tanggal tersebut sudah lewat.

Namun ada banyak penjelasan mengenai tanda-tanda datangnya Lailatul Qadar itu.
Diantara tanda-tandanya adalah:

1. Pada hari itu matahari bersinar tidak terlalu panas dengan cuaca sangat sejuk, sebagaimana hadits riwayat Muslim.
2. Pada malam harinya langit nampak bersih, tidak nampak awan sedikit pun, suasana tenang dan sunyi, tidak dingin dan tidak panas. Hal ini berdasakan riwayat Imam Ahmad.

Dalam Mu’jam at-Thabari al-Kabir disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: “Malam lailatul qadar itu langit bersih, udara tidak dingin atau panas, langit tidak berawan, tidak ada hujan, bintang tidak nampak dan pada siang harinya matahari bersinar tidak begitu panas.”

Nah, agar mendapatkan keutamaan lailatul qadar, maka hendaknya memperbanyak ibadah selama bulan Ramadlan, diantaranya, senatiasa mengerjakan shalat fardhu lima waktu secara berjama’ah, mendirikan qiyamul lail (shalat tarawih, tahajjud, dll), membaca Al-Qur’an (tadarrus) sebanyak-banyaknya dengan tartil (pelan-pelan dan membenarkan bacaan tajwidnya), memperbanyak dzikir, istighfar dan berdo’a.

Pendapat yang lebih umum, Lailatul Qadar jatuh pada tanggal 27 setiap Ramadhan. Para ulama Makkah mengkhatamkan Al-Qur’an bersamaan dengan shalat Tarawih di malam ke 27. Pada saat itulah di sana orang-orang bersemangat menjalankan ibadah shalat Tarawih, juga shalat-shalat Sunnah yang lain, seperti Tahajjud, Witir, dan ibadah sosial seperti memberi makan orang miskin, memberi buka kepada yang berpuasa, sedekah ini sedekah itu, dan lain sebagainya.

Hadits riwayat Ahmad dengan sanad shahih, dari Ibnu Umar, Rasulullah bersabda: “Siapa mencari malam Lailatul Qadar, carilah di hari ke 27.” Di Indonesia, oleh para jamaah thareqat mu’tabarah menjadikan malam 27 ini sebagai malam paling istimewa untuk berbaiat, berdzikir, istighatsah dan berziarah kubur. Umum dikenal istilah “malam pitulikuran” sebagai malam paling istimewa.

Menjadi Awalan

Sejatinya amal ibadah apapun kita lakukan semata-mata karena Allah SWT, hanya karena Allah. Tidak berharap apapun. Tidak berharap pujian dari sesama manusia. Tidak berharap agar dikaruniakan keberkahan di dalam setiap langkah kehidupan kita. Bahkan, pada tingkatan yang lebih tinggi, tidak berharap pahala bagi kebahagiaan akhirat. Karena manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya, menyembah-Nya.

Namun, manusia adalah manusia: sering menjadi manja, selalu menuntut lebih, selalu berharap balasan, tidak akan melakukan sesuatu ibadah apabila tidak mendapat iming-iming pahala, kebaikan, dan keberkahan yang luar biasa dari Sang Pencipta.

Sebagai contoh adalah betapa paniknya kita ketika bulan Ramadhan tiba. Kita bebondong-bondong melakukan ibadah karena ada iming-iming pahala besar jika kita rajin beribadah pada bulan penuh kemuliaan itu. Ibadah sunat menjadi wajib, sementara ibadah wajib berlipat-lipat pahalanya. Dan seterusnya.

Sayangnya, usai Ramadhan kita kembali seperti biasa. Semangat Ramadhan telah hilang. Kita kembali bergelimang. Alih-alih, pada saat Ramadhan belum usai pun semangat itu mulai menghilang. Semangat beribadah entah kenapa hanya ada di awal bulan Ramadhan. Sementara pada pertengahan bahkan akhir Ramadhan kita sudah berkelana entah kemana.

Maka kemudian bagi manusia-manusia itu dikabarkanlah berita gembira bahwa ada malam kemuliaan yang bernilai seribu bulan, yakni (malam) Lailatul Qadar. Jika kita beribadah pada malam itu maka pahalanya akan luar biasa besarnya, supaya manusia kembali bersemangat untuk beribadah seperti pada awal bulan Ramadhan.

Tahukan bahwa dirahasiakannya malam Lailatul Qadar sesungguhnya adalah pukulan telak buat manusia. Sebenarnya kita sedang tersindir. Rahasia kapan datang malam Lailatul Qadar itu memberikan pelajaran bahwa ibadah mestinya tidak hanya dilakukan dalam satu malam saja.
Andailah manusia tak goyah dalam melakukan ibadah, rajin, dan istiqomah; Karena ibadah tak terbatas waktu, kapan saja, dan sepanjang masa. Tapi baiklah, Ramadhan dan Lailatul Qadar semoga menjadi awalan yang baik untuk beribadah.
(A Khoirul Anam-red)

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari catatan ini
Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat

Sumber http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=10339
Shared By Catatan Catatan Islami Pages


· · Share

Praying In Congregation In The Mosque Is Better Than Praying At Home!

Praying In Congregation In The Mosque Is Better Than Praying At Home!


 Praying In Congregation In The Mosque Is Better Than Praying At Home!


The Holy Prophet, Sall-Allahu alayhi wa sallam, has greatly stressed the offering of prayer in congregation and described its unique merit and excellence. For instance, he said:

"Nothing is harder on the hypocrites than the Isha and Fajr prayer; had they known of the great rewards that Allah would bestow for those prayers they would never had missed them even if they had to come to the masjid on their knees." Then he said, "I wish I should tell a Mua'dhin to pronounce the iqamah and appoint someone as Imam in my place, and I should myself go and set fire to the houses of those who do not come out even after hearing the adhan. (Bukhari, Muslim).


"Offering the prayer in congregation carries 27 times greater reward than offering it alone individually."  (Bukhari, Muslim)


According to Sayyidna Anas, Radi-Allahu anhu, the Holy Prophet, Sall-Allahu alayhi wa sallam, said:

"The person who offers his prayers continuously for 40 days without missing the first takbeer, is granted a two-fold immunity by Allah: immunity from Hell-fire and immunity from hypocrisy.  (Tirmidhi)

According to Sayyidna Abdullah bin Masoud, Radi-Allahu anhu, the Holy Prophet, Sall-Allahu alayhi wa sallam, said:

"O Muslims! Allah has prescribed paths of right guidance for you among which is the offering of the daily prayers in congregation in the masjid, which is the offering of the daily prayers in congregation in the masjid; if you start saying your prayers individually at home, as so-and-so does, you will be forsaking the Sunnah of your Prophet, and if you forsake the Sunnah of your Prophet, you will certainly be going astray."  (Muslim)


According to Ubayy bin Ka'ab, Radi-Allahu anhu, the Holy Prophet, Sall-Allahu alayhi wa sallam, said:
"If the people come to know of the great rewards and benefits of the congregational prayer, they would never stay back but would rush to the masjid for it. The first row merits the highest reward. Two persons praying together merit greater reward than the same praying individually, the rule being that the bigger the congregation the higher its worth in the Sight of Allah."  (Abu Dawud)

  
"Give good news to those who go to the masjid in the darkness of the night to offer the prayer in congregation that on the Day of Judgement they will be provided with a perfect light."  (Tirmidhi)


Sayyidna Usman, Radi-Allahu anhu, has reported that he heard the Holy Prophet, Sall-Allahu alayhi wa sallam, say:

"The person who observes the Isha prayer in congregation, will have the reward and blessings of staying up half the night in prayer, and the one who observes the Fajr prayer in congregation will have the reward and blessings of staying up the whole night in prayer." (Tirmidhi)

What The Prophet (peace and blessings be upon him) did in Sajdah

What The Prophet (peace and blessings be upon him) did in Sajdah

by Islam – The Religion of Peace on Saturday, 21 August 2010 at 08:28
 
By: Abdul Malik Mujahid



"I happened to pray one night with the Prophet, peace and blessings be upon him. The Prophet started reciting al-Baqarah chapter of the Quran and I thought he would stop after 100 verses. But when he went beyond it I thought that he may want to recite the whole chapter in one Rakah. When he finished al-Baqarah I thought he would do Ruku but then he immediately started reciting al-Imran and when he finished he started reciting an-Nisa. The Prophet was reciting very slowly with enough pauses and would do Tasbih (praising God) and Dua (supplication) according to the subject being discussed in the relevant Ayah. After that the Prophet did Ruku (bowomg). In Ruku he stayed as long as he did when he was in Qiyam (standing in prayer). After Ruku he stood up for almost same time and then he performed Sajdah (prostration) and stayed there as long as he recited Quran while doing Qiyam". (Hudaifa, may God be pleased with him, narrated this hadith as in Sahih al Muslim, Nasai)


Of course, not all the Prayers of the Prophet were this long. In public he would pray for a shorter period of time and ask other imams to do the same. The Prophet use to make dua in Sajdah not just tasbeeh as we do in obligatory prayers. He used to cry in Sajdah. He would spend an extended amount of his time in Sajdah whenever he was praying on his own. Many times, however, Muslims would join him when they found him praying alone.

Aisha, may God be pleased with her, mentions that: the Prophet one night stood up for Salah and he stayed in it for so long that I thought the Prophet had passed away or died. When I felt that way I stood up shook his toe and I felt the movement then I laid down again and I heard the Prophet saying in Sajdah "I seek refuge in Your pleasure from Your wrath, and in Your pardon from Your punishment, and in You from You. I cannot enumerate Your praises as You praise Yourself." (Transliteration: Audhu bi ridaka min sakhatika, wa bi muafatika min uqubatika wa bika minka, la uhsiy thana'an alayka, anta kama athnayta ala nafsika).
When he stood up from the Sajdah he asked Aisha, "do you think God's Prophet has betrayed you?" Aisha responded "No Preophet of God, because of the long Sajdah I thought you had died." (hadith from Baihaqi but Dua wording from Muwatta Imam Malik)

One of the Prophet's companion, Abdullah ibn Zubayr, would pray with such concentration that when he was in Sajdah the sparrows would come flying and sit on his back. In a separate narration, Abdullah ibn Abbas, another companion, said if you want to see how the Prophet of God used to pray, you should copy how Abdullah ibn Zubayr used to pray.

And consider these two Hadiths from the Sahih Muslim:

Ma'dan b. Talha reported: I met Thauban, the freed slave of God's Messenger, and asked him to tell me about an act for which, if I do it, God will admit me to Paradise, or I asked about the act which was loved most by God. He gave no reply. I again asked and he gave no reply. I asked him for the third time, and he said: I asked God's Messenger about that and he said: Make frequent prostrations before God, for you will not make one prostration without raising you a degree because of it, and removing a sin from you, because of it. Ma'dan said that then he met Abu al-Darda' and when he asked him, he received a reply similar to that given by Thauban.

In the second Hadith, Rabi'a b. Ka'b said: I was with God's Messenger one night and I brought him water and what he required. He said to me: Ask (anything you like). I said: I ask your company in Paradise. He (the Prophet) said: Or anything else besides it. I said: That is all (what I require). He said: Then help me to achieve this for you by devoting yourself often to prostration.

Sajdah is truly a humbling experience. We can beg for God's forgiveness and cry by thinking about our misdeeds, as well as seek refuge in God from the Hellfire. We are in one of the most submissive physical positions when in Sajdah. It is one of the best occasions to ask God for forgiveness, guidance, and all that we want. It is one of the best positions in which to talk to God. Seeking God's pleasure and forgiveness need to be given top priority in these remaining days and nights of Ramadan.

What can a woman who is menstruating do on Laylat al-Qadr?

What can a woman who is menstruating do on Laylat al-Qadr?

by Allhumdulilah For Everything! on Friday, 03 September 2010 at 12:51
Praise be to Allaah. 



A woman who is menstruating may do all acts of worship apart from praying, fasting, circumambulating the Ka'bah and doing i'tikaaf in the mosque. 
It was narrated that the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) used to stay up at night during the last ten nights of Ramadaan. Al-Bukhaari (2401) and Muslim (1174) narrated that 'Aa'ishah (may Allaah be pleased with her) said: "When the last ten nights of Ramadaan came, the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) would refrain from marital relations, stay up at night and wake his family up." Staying up at night is not only for prayer, rather it includes all kinds of acts of worship. This is how the scholars interpreted it. 
Al-Haafiz said: "Staying up at night" means staying up to do acts of worship. 
Al-Nawawi said: spending the night staying up to pray etc. 
He said in 'Awn al-Ma'bood: i.e., in prayer, dhikr and reciting the Qur'aan. 
Praying qiyaam is the best act of worship that a person can do on Laylat al-Qadr. Hence the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: "Whoever spends the night of Laylat al-Qadr in prayer out of faith and in hope of reward, his previous sins will be forgiven." (Narrated by al-Bukhaari, 1901; Muslim, 760). 
Because the woman who is menstruating is not allowed to pray, she can spend the night in doing other acts of worship apart from prayer, such as: 
1- Reading or reciting Qur'aan. See question no. 2564. 
2- Dhikr – such as saying Subhaan-Allaah, La ilaaha illa-Allaah, al-Hamdu Lillaah, etc. She can repeat the words "Subhaan-Allaah wa'l-hamdu Lillaah, wa laa ilaaha ill-Allaah, wa Allaahu akbar (Glory be to Allaah, praise be to Allaah, there is no god but Allaah and Allaah is Most Great)" and "Subhaan Allaah wa bi hamdihi, subhaan Allaah il-'Azeem (Glory and praise be to Allaah, glory be to Allaah the Almighty)" etc. 
3- Istighfaar (praying for forgiveness), by repeating the phrase "Astaghfir-Allaah (I ask Allaah for forgiveness)." 
4- Du'aa' (supplication) – she can pray to Allaah and ask Him for what is good in this world and in the Hereafter, for du'aa' is one of the best acts of worship. The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said, "Du'aa' is 'ibaadah (worship)."(Narrated by al-Tirmidhi, 2895; classed as saheeh by al-Albaani in Saheeh al-Tirmidhi, 2370). 
The woman who is menstruating can do these acts of worship and others on Laylat al-Qadr. 



Tafsir Ayat: Ganjaran percepat qada puasa ringan penanggungan umat


by Muhammad Hafiz on Thursday, 16 September 2010 at 13:17
FIRMAN Allah bermaksud: “Oleh itu barang siapa di antara kamu melihat anak bulan Ramadan, maka hendaklah ia berpuasa di bulan itu dan barang siapa yang sakit atau dalam musafir, maka wajiblah ia berpuasa (qada sebanyak hari yang ditinggalkan itu) pada hari yang lain.” (Surah al-Baqarah, ayat 185)

Syeikh al-Sabuni menafsirkan Allah mensyariatkan ibadat puasa pada Ramadan kerana bulan itu diturunkan rahmat kepada segenap hamba-Nya yang bertakwa. Pada masa sama, Allah tidak mengkehendaki kepada hamba-Nya kecuali kemudahan.

Oleh itu, Allah memberikan kelonggaran yang mengharuskan orang sakit dan musafir berbuka puasa pada Ramadan dan Allah memerintahkan mereka menggantinya (qada) sebanyak hari yang ditinggalkan, sehingga sempurna bilangan satu bulan iaitu 29 atau 30 hari.

Qada’ puasa Ramadan bermaksud menggantikan puasa yang terbatal pada Ramadan atas sebab diharuskan berbuka oleh syarak. Hukum qada puasa adalah wajib dan waktunya bermula selepas Ramadan sehingga Ramadan berikutnya.

Walau bagaimanapun, qada puasa yang dilakukan pada masa dilarang berpuasa adalah tidak sah seperti hari raya.

Jika musafir, orang sakit, perempuan kedatangan haid dan nifas tidak berpuasa pada Ramadan, mereka wajib mengqada puasa dan tidak dikenakan fidyah.

Fidyah ialah denda memberi makan seorang miskin secupak bagi setiap satu hari yang tidak dikerjakan puasa dengan sebab tertentu atau melewatkan qada puasa Ramadan tanpa uzur sehingga masuk Ramadan berikutnya. Jika seseorang masih melewatkan qada puasanya sehingga masuk Ramadan seterusnya, maka bayaran fidyah meningkat dua cupak iaitu satu hari puasa ditinggalkan dengan dua cupak. Begitu juga jika melengahkan qada puasa hingga masuk Ramadan ketiga, dikehendaki membayar fidyah tiga cupak bagi satu hari puasa ditinggalkan dan begitulah seterusnya.

Sebagai Islam yang mengaku beriman, maka kita janganlah lalai mengqada puasa yang ditinggalkan. Lagi cepat kita qada lagi besar faedahnya dan ringan penanggungan terhadap Allah SWT.

Sebab wajib fidyah adalah:

  • Tidak mampu melakukan ibadah puasa seperti orang tua dan orang sakit yang tiada harapan sembuh, dia boleh berbuka atau tidak berpuasa dengan tidak perlu mengqada puasanya dan hanya membayar fidyah saja. 

  • Orang yang melewatkan qada puasa tanpa uzur sehingga masuk Ramadan berikutnya, maka dia wajib mengqada puasa dan membayar fidyah. 

  • Perempuan mengandung dan perempuan menyusu bayinya, ada perbezaan pendapat dalam kalangan ulama fikah.
    Ibnu Kathir dalam tafsirnya mengemukakan beberapa pandangan ulama, ada berpendapat mereka harus berbuka dan wajib mengqada puasa yang ditinggal serta membayar fidyah.
    Sesetengah ulama menyatakan, mereka hendaklah membayar fidyah saja tanpa diwajib mengqada puasanya, ada juga menyatakan mereka hanya diwajibkan qada tanpa fidyah dan yang lain pula berpendapat, harus berbuka, tanpa sebarang tindakan susulan sama ada qada dan fidyah.
    Berkaitan puasa orang musafir, Prof Dr Yusof al-Qaradawi menjelaskan, dibolehkan melakukan safar (pemusafiran) dengan kereta api, kapal laut, kapal terbang, termasuk apa juga alat pengangkutan menyenangkan, yang sedia ada pada zaman sekarang ini.
    Alat pengangkutan itu tidak menggugurkan kemudahan hukum yang ditetapkan Islam. Ia adalah sadaqah (hadiah) Allah yang dilimpahkan kepada kita, oleh itu tidak memadai menolaknya.
    Sebahagian yang tidak faham fiqh berpendapat safar (pemusafiran) di zaman moden tidak sama dengan zaman dulu. Mereka tidak menganggap perjalanan dilakukan dengan alat pengangkutan moden adalah musafir, sehingga membolehkan si pelakunya mendapat kemudahan hukum.
    Penulis ialah Timbalan Dekan (Akademik dan Hal Ehwal Pelajar) Fakulti Pengajian Kontemporari Islam, Universiti Sultan Zainal Abidin

  • Thursday, 6 January 2011

    Make Du'a From Your Heart


    by Lauren Anderson on Thursday, 21 January 2010 at 02:13
     
     
     
    Assalamu Alaikum,

    Du'a is a beautiful thing for any muslim to do. AllahSWT loves when his servants ask him for things and to pray and speak to Him.

    This is part of being a servant of ALLAHSWT.

    Sometimes you're having a good day and you just want to thank ALLAHSWT.
    Make Du'a.

    Make du'a when you're entering into a bathroom, when you're driving a car, when you meet someone new, when you buy a new outfit, when you're sad, when you're wanting to send peace and blessings upon the ProphetSAW and his companions. This is what ALLAHSWT wants from us.

    We are His servants and He is Our Master.

    Making du'a isn't hard.

    Some people make du'a before making salaat. Others make du'a in salat. Some make du'a when they are in the restroom.

    The options are endless when you want to make du'a.

    Du'a isn't a hard task to do whatsoever.

    When we make du'a its a sure sign that we are trying to get the blessings and rewards of AllahSWT.

    Repentence

    When we make du'a we should try repenting of our sins.

    We must be sure that we won't copy the sin again.
    We must be able to pray du'a sincerely.
    We must be able to pray du'a and allow ALLAHSWT do the rest.
    Pray that youre sins are wiped clean. Pray that ALLAHSWT will guide you onto the right way.

    Repentence is a huge thing to do when yiou want ALLAHSWT to cleanse you of your sins.


    Assalamu Alaikum wa Warahmatullahi wa Barakatuh

    Saturday, 1 January 2011

    WAJIB BERSIKAP IKHLAS DALAM MENUNTUT ILMU DAN AMAL IBADAT

    By Muhamad Zaki Ibrahim Saturday, August 14, 2010 at 4:18pm Hadis Ketiga Puluh Tiga 33-

    Dari Abu Hurairah, r.a., dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Sesiapa yang mempelajari sesuatu ilmu dari jenis-jenis ilmu yang tujuannya untuk mencapai keredhaan Allah, sedang ia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapat sesuatu bahagian dari dunia (harta benda atau pengaruh), nescaya ia tidak akan dapat mencium bau syurga, pada hari qiamat kelak." ( Abu Daud dan Ibnu Majah)

    Hadis yang ketiga puluh tiga ini menerangkan: Orang yang mempelajari ilmu agama dengan tujuan mendapat habuan dunia, buruk padahnya. Huraiannya: Tiap-tiap perbuatan adalah dinilai menurut tujuan orang yang melakukannya. Sesuatu perkara yang dilakukan oleh dua orang dengan tujuan yang berlainan, maka berlainan pula nilainya, kerana tujuanlah yang mendorong seseorang melakukan sesuatu perbuatan itu. Ilmu agama - sebagaimana yang sedia diketahui - adalah dan Allah, untuk menjalankan perintah- perintah Allah dan beramal kerana Allah.

    Oleh itu, seseorang penuntut ilmu agama hendaklah membersihkan hatinya supaya ilmu dan amal yang diusahakannya sungguh- sungguh kerana Allah, bukan kerana kepentingan dunia. Dalam hadis ini, Rasulullah s.a.w. menegaskan: Bahawa orang yang menuntut ilmu agama untuk mendapat habuan dunia semata- mata, maka ia bukan sahaja tidak memasuki syurga bahkan tidak dapat mencium baunya, kerana orang yang demikian telah menyelewengkan agama Allah dan telah menjualnya dengan habuan-habuan dunia. Oleh itu sudah selayaknya ia menerima balasan yang seburuk-buruknya. Dalam pada itu, janji balas buruk yang tersebut dalam hadis ini, tidak ditimpakan kepada orang yang menuntut ilmu agama dengan ikhlas, kemudian ia beroleh habuan dunia sebagai nikmat pemberian yang disegerakan Tuhan kepadanya, maka orang yang demikian tidak dikeji oleh syarak, kerana ia tidak menyelewengkan agama Allah dan tujuannya yang sebenar.

    Mengenai hal ini, Imam Ghazali dan alim ulamak yang lain telah membahagikan penuntut- penuntut ilmu kepada tiga bahagian: Pertama - Orang yang menuntut ilmu kerana Allah dan untuk keselamatannya pada hari akhirat, maka ia adalah dari orang-orang yang berjaya! Kedua - Orang yang menuntut ilmu untuk mendapat kemuliaan, kebesaran dan harta kekayaan, dalam pada itu ia menyedari akan tujuannya yang buruk itu.

    Orang yang demikian, jika ia bertaubat dan menyelamatkan dirinya dan perbuatannya yang salah itu maka ia akan termasuklah dalam golongan orang-orang yang berjaya, kerana orang yang bertaubat dari dosanya akan menjadilah ia sama seperti orang yang tidak berdosa; dan jika ia mati sebelum bertaubat, adalah ditakuti ia akan mati dalam keadaan Su' al-Khatimah", semoga Allah melindungi kita daripada keadaan yang demikian dan dari segala yang membawa kepada "kesudahan yang buruk" itu. Ketiga - Orang yang menuntut ilmu dengan tujuan mendapat harta kekayaan dan pangkat kebesaran, dengan menyangka bahawa ia mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Allah, kerana ia berlagak seperti alim ulama pada pakaian dan tutur katanya; maka orang yang demikian adalah dari golongan yang binasa, kerana ia dihalangi dari bertaubat oleh sangkaannya bahawa ia berada di atas jalan yang benar.

    Pendeknya orang yang menuntut ilmu dikehendaki menentukan niat dan tujuannya pada tiap-tiap masalah secara khusus satu persatu, atau secara umum - bahawa ia mempelajari ilmu itu ialah untuk menunaikan fardu ain" yang ditanggungnya untuk kewajipan dirinya sendiri, dan yang lebih dan itu hendaklah diniatkan untuk disampaikan kepada orang ramai sebagai "fardu kifayah"; dan janganlah diniatkan sebagai perkara "sunat" kerana pahala "perkara yang difardukan" adalah lebih besar dari itu. Demikian juga hendaklah ia menentukan niat dan tujuannya dengan ilmu yang diajarkannya itu akan dapat mencapai jalan yang menyampaikan faedahnya kepada segala lapisan masyarakat, dengan perantaraan murid- muridnya dan murid-murid kepada murid-muridnya, meliputi ilmu dan amal yang terus menerus hingga hari qiamat. Demikian juga hendaklah ia menentukan niat dan tujuannya untuk menyekat dirinya dari melakukan maksiat dengan berlaku taat kepada Allah dan juga menyekat dirinya dari perkara- perkara yang sia-sia dan merugikan. Menurut Imam Al-Qarafi, bahawa sesiapa yang mengajarkan ilmu kepada orang ramai dengan tujuan hendak menjadi orang yang masyhur dan terpuji, maka perbuatannya yang demikian menjadi sebab untuk ia dipulaukan dan tidak diambil ilmu yang disampaikannya.

    Do'a saat menuju, masuk, dan keluar Masjid

    shared By aku adalah Muslim
    Wednesday, 11 August 2010 at 23:04

    Sahabat, berikut ini do'a yang di sunnahkan untuk di dibaca yang berkaitan dengan Masjid :

    1 .Do'a menuju mesjid

    Allahummaj alfii qalbii nuuran, wa fii basharii nuuran, wafii sam'ii nuuran, wa'ayyaminii nuuran,wa ayyasaari nuuran, wa fawqii nuuran, wa tahtii nuuran, wa amaamilnuuran, wa khalfil nuuran, wa azhzhamilii nuuran.

    Ya Allah ! jadikanlah dalam hatiku suatu cahaya, dalampandanganku suatu cahaya, dalam pendengaranku sutau cahaya, dari arah kanankusuatu cahaya, dari arah kiriku suatucahaya, di atasku suatu cahaya, dibawahku suatu cahaya, didepanku suatu cahaya, dibelakangku suatu cahaya, dan limpahkanlah kepadaku dengan cahaya.

    (HR. Buhari Muslim)

    2. Do'a masuk mesjid

    Allahummaftahlii abwaa ba rahmatika Ya Allah !,

    bukakanlah untukku pintu-pintu rahmatmu

    (HR.MUSLIM)

    3. Do'a keluar mesjid

    Allahumma innii as aluka min Fadhlika Ya Allah, aku mohon padamu akan karuniamu

    (HR. MUSLIM, ABU DAUD, dan NASA'I)

    Waktu mustajabnya doa

    By Puteri Pembuka Saturday, August 14, 2010 at 1:30am

    1.Sebelum sahur

    2.Sebelum berbuka

    3.Selepas wuduk

    4.Selepas solat

    5.Selepas membaca Al-Quran

    6.Selepas ditimpa musibah

    7.hari Jumaat,selepas khutbah pertama



    3 keadaan/kedudukan doa:


    1.terus mustajab

    2.tangguh dahulu,kemudian makbul

    3.diperkenankan,tapi di akhirat.


    ~doa mestilah dengan penuh khusyu' dan tawadhu'..

    *note yang ringkas je...ilmu yang dapat dari tazkirah selepas solat terawih tadi.