Pages

Showing posts with label Ajal Maut. Show all posts
Showing posts with label Ajal Maut. Show all posts

Wednesday, 12 January 2011

This is the story of a Muslim boy named Mo.

This is the story of a Muslim boy named Mo.

by Muhammad Hassan on Friday, 20 August 2010 at 22:12
This is the story of a Muslim named Mo.It's a symbolic story that many of us may know.
He was born in a Muslim family but they were weak in the Deen.He was a lovely child, he was more precious then anything you've seen.He grew up so quick; it was just a flash before his parent's eyes.They didn't get to teach him about Islam. You know how the time just flies.Before they knew it, they were sending him off to school.They were so happy; he shined like a precious little jewel.
He was taught that he was a Muslim, but that's about all he knew.He wanted to know more but his dad had way too many things to do.He had cute little cheeks; they turned rosy as he got tired.He was a handsome little guy, he was always admired.
But with his parents so busy, he never got to learn about Allah.The days passed by and his parents never taught him how to do Salaah.Some more years passed by, and by now his voice began to change.He felt new emotions, and he liked them, even though they felt strange.
His dad finally took him one day to some Islamic Sunday school.But he had already learned from his friends that religion just wasn't cool.Time past by and the little man grew older.With the passage of time his temper became bolder.
His mother was getting worried, he was found to be ditching school.But she didn't say anything, or else his temper would flare up like fuel.He would go to parties and come home all drunk.And in some of his classes he was now beginning to flunk.Her cute little rosy cheeked child had become a wild young man.
She cried every night because teaching him Islam was never in her plan.He met a pretty girl named Rose; he thought he loved her for sure.She noticed how he felt, so she asked him to go out with her.He thought it was love at first sight; she kissed him on the first date.But she just wanted to sleep with him, yet to that he had no debate.
He would go out all night with her, sometimes without even saying good-bye."Why didn't I show him the Deen?" His father could only cry.He kept on partying while his family kept on weeping.And he met other girls, and with them too he was also sleeping.
He started to look sick, and he wasn't really feeling so good.His mother just had to cry, he didn't look like the way he should.He went to the doctor for what he thought was a cold."Young man, you've got AIDS," is what he was told.
When his mom found out she just couldn't take the pain.For not teaching him his Deen, she knew she was to blame.Mo got sicker and you could see him getting weaker day by day.And he didn't know Allah, so to Him he never prayed.What could she do now for her once precious little guy?She knew he needed the Deen, but now she could only cry.
His time came one day so the Angel came for his spirit.His dad told him to say la ilaha illalah, but Mo didn't hear it."What's that dad? I can't seem to hear you, everything's going dull."But before Mo ever heard it, the Angel was off with his soul.His father fell to his knees and cried like he never did before.He knew he should have taught him the Deen, so he felt guilty to the core.
This is the story of little Mo. Lets not let it be the story of our kid's situation.So Please My Brothers And Sisters, Take This DEEN To The Next Generation!!

Wednesday, 5 January 2011

An advice at death about direction in Life

An advice at death about direction in Life

by Amina Isjhaz on Saturday, 04 September 2010 at 15:04
 
 
An advice at death about direction in Life

It is reported that when Al-Hasan Al-Basrî was on his deathbed, some of his companions came to him and said:

O Abû Sa’îd, offer us some words you can benefit us with. He replied, “I will equip you with three words, then you must leave me to face what I am facing.

Be the farthest of people from those things you have been forbidden, and be the most involved of people in the good you have been commanded to do; and know that the steps you take are two steps: a step in your favor and a step against you, so be careful where you come and where you go.

”Abû Na’yam, Hilyah Al-Awliyâ` 2:154ل 

Tuesday, 4 January 2011

Siapkah apabila sakaratul maut tiba

by KATA MUTIARA ISLAM on Friday, 19 February 2010 at 15:08
 
 
Sakaratul Maut, Siapkah kita untuk menghadapinya ?
"Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar." (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri) (QS. Al-Anfal {8} : 50).

"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), "Keluarkanlah nyawamu !" Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Alloh (perkataan) yang tidak benar dan kerena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya". (Qs. Al- An'am : 93).

Cara Malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan, bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada Alloh, maka Malaikat Izrail mencabut nyawa secara kasar. Sebaliknya, bila terhadap orang yang soleh, cara mencabutnya dengan lemah lembut dan dengan hati-hati. Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa dengan raga tetap teramat menyakitkan.

"Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali sakitnya dipukul pedang". (H.R. Ibnu Abu Dunya).

Di dalam kisah Nabi Idris a.s, beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan sholat sampai puluhan raka'at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris a.s yang sedemikian banyak, setiap malam naik ke langit. Hal itulah yang sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail. Maka bermohonlah ia kepada Alloh Swt agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris a.s. di dunia. Alloh Swt, mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris.

"Assalamu'alaikum, yaa Nabi Alloh". Salam Malaikat Izrail,

"Wa'alaikum salam wa rahmatulloh". Jawab Nabi Idris a.s.

Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail.

Seperti tamu yang lain, Nabi Idris a.s. melayani Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris a.s. mengajaknya makan bersama, namun di tolak oleh Malaikat Izrail. Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris a.s mengkhususkan waktunya "menghadap". Alloh sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja. Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris a.s mengajak jalan-jalan "tamunya" itu ke sebuah perkebunan di mana pohon-pohonnya sedang berbuah, ranum dan menggiurkan.

"Izinkanlah saya memetik buah-buahan ini untuk kita". pinta Malaikat Izrail (menguji Nabi Idris a.s).

"Subhanalloh, (Maha Suci Alloh)" kata Nabi Idris a.s.

"Kenapa ?" Malaikat Izrail pura-pura terkejut.

"Buah-buahan ini bukan milik kita". Ungkap Nabi Idris a.s. Kemudian Beliau berkata: "Semalam anda menolak makanan yang halal, kini anda menginginkan makanan yang haram".

Malaikat Izrail tidak menjawab. Nabi Idris a.s perhatikan wajah tamunya yang tidak merasa bersalah. Diam-diam beliau penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu. Siapakah gerangan ? pikir Nabi Idris a.s.

"Siapakah engkau sebenarnya ?" tanya Nabi Idris a.s.

"Aku Malaikat Izrail". Jawab Malaikat Izrail.

Nabi Idris a.s terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.

"Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku ?" selidik Nabi Idris a.s serius.

"Tidak" Senyum Malaikat Izrail penuh hormat.

"Atas izin Alloh, aku sekedar berziarah kepadamu". Jawab Malaikat Izrail.

Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam.

"Aku punya keinginan kepadamu". Tutur Nabi Idris a.s

"Apa itu ? katakanlah !". Jawab Malaikat Izrail.

"Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Alloh SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku". Pinta Nabi Idris a.s.

"Tanpa seizin Alloh, aku tak dapat melakukannya", tolak Malaikat Izrail.

Pada saat itu pula Alloh SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris a.s. Dengan izin Alloh Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris a.s. sesudah itu beliau wafat.

Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Alloh SWT agar menghidupkan Nabi Idris a.s. kembali. Alloh mengabulkan permohonannya. Setelah dikabulkan Allah Nabi Idris a.s. hidup kembali.

"Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku ?" Tanya Malaikat Izrail.

"Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti". Jawab Nabi Idris a.s.

"Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu". Kata Malaikat Izrail.

MasyaAlloh, lemah-lembutnya Malaikat Maut (Izrail) itu terhadap Nabi Idris a.s. Bagaimanakah jika sakaratul maut itu, datang kepada kita ?

Siapkah kita untuk menghadapinya ?

Tanda-tanda Ajal Mendekat

by KATA MUTIARA ISLAM on Wednesday, 05 May 2010 at 07:37
 
 
Ada seorang hamba yang begitu taat kepada Allah, sebut saja namanya Fulan. Dia tak pernah lalai dalam beribadah kepada Allah SWT. Suatu hari Izrail, malaikat pencabut nyawa, datang bertamu kepadanya. Terjadilah tanya jawab antara Fulan dengan tamunya itu."Wahai Izrail! Apakah perihal kedatanganmu ke mari adalah atas perintah Allah untuk mencabut nyawaku, ataukah hanya kunjungan biasa?" "Ya, Fulan ! Kedatanganku kali ini tidak dalam rangka mencabut nyawamu. Kedatanganku ini hanya kunjungan biasa. Mendengar penjelasan Izrail, maka seketika bersinarlah wajah Fulan karena gembiranya. Mereka lalu bercakap-cakap sampai tiba saatnya Izrail akan pamit.

"Wahai sahabatku, Izrail! Sebagai tanda persahabatan kita, aku ada harapan kepadamu kiranya engkau tidak berkeberatan untuk mengabulkannya." "Gerangan apakah permohonanmu itu, hai Fulan sahabatku?" "Begini, ya Izrail. Jika nanti kau datang lagi kepadaku dengan maksud untuk mencabut nyawaku, maka mohon kiranya engkau mau mengirimkan utusan kepadaku terlebih dahulu. Jika demikian, maka aku ada waktu untuk bersiap-siap menyambut kedatanganmu." "Oh, begitu? Hai, Fulan, kalau hanya itu permohonanmu, aku kabulkan. Aku berjanji akan mengirimkan utusan itu kepadamu."

Waktu pun berjalan. Tahun berganti tahun. Tak terasa bahwa pertemuan antara Fulan dengan Izrail telah sekian lama berlalu. Kehidupan berlangsung terus sampai suatu ketika Fulan kaget sekali. Tak disangka-sangka sebelumnya Izrail muncul di rumahnya. Fulan merasa bahwa kedatangan Izrail ini begitu mendadak, padahal ada komitmen janji Izrail kepadanya.

"Wahai, Izrail sahabatku! Mengapa engkau tak mengirimkan utusanmu kepadaku? Mengapa engkau ingkar janji?" Dengan tersenyum, Izrail menjawab, "Wahai Fulan, sahabatku! Sesungguhnya aku sudah mengirimkan utusanku itu kepadamu, hanya kamu sendiri yang mungkin tidak menyadarinya. Coba perhatikan punggungmu, dulu ia tegak tetapi sekarang bungkuk. Perhatikan caramu berjalan, dulu kamu begitu tegap perkasa, sekarang gemetaran dengan ditopang tongkat. Perhatikan penglihatanmu, dulu ia bersinar sehingga orang luluh kena sorotnya tetapi sekarang kabur dan lemah. Ya, Fulan, bukankah pikiran-pikiranmu sekarang mudah putus asa padahal dulu begitu enerjik dan penuh berbagai harapan? Tempo hari kamu hanya menginginkan satu utusan saja dariku, tetapi aku telah mengirimkan begitu banyak utusanku kepadamu!"

Sahabat, itu adalah tanda ajal yang pasti mendekat. Banyak juga manusia yang mendapat ajal tanpa mengalami tanda-tanda tersebut. Namun ada juga telah mendapatkan tanda-tanda tapi tidak menghiraukannya. Semoga kita diberikan waktu dan kesiapan untuk membekali diri sebelum ajal menimpa kita.