Pages

Monday, 3 October 2011

JUMAAT -8 RABIULAWAL 1432


JUMAAT -8 RABIULAWAL 1432

by Abu Zarr on Friday, 11 February 2011 at 07:38
Wahaaaaiii sahabatku yang dihormati...

Nafsu sememangnya menjadi alat senjata Syaitan menipu dan memperdaya manusia dalam segenap perkara kehidupan. Berjihad menewaskan nafsu adalah agenda utama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendidik manusia agar tidak ditambat secara berterusan ke arah kemaksiatan terhadap Allah, sesuai dengan sabda Rasulullah mafhumnya :

"Orang-orang yang berjihad itu adalah mereka yang berjihad menentang nafsunya" (Riwayat Bukhari)

Maka, sewenang-wenangnya manusia yang berusaha menundukkan nafsunya harus banyak bersabar dan tekun beribadah semula kerana kelebihan orang yang bersabar sangat besar manfaatnya di sisi Allah, bertepatan dengan sabda Rasulullah mafhumnya :

"Sesungguhnya orang Mukmin akan menerima tekanan hidup kerana tidak ada suatu bencana samada terkena duri mahupun yang lebih besar lagi dari itu; tidak juga ketakutan melainkan Allah akan mengangkat darjatnya satu darjat, dan menghapuskan satu kesalahannya dengan kesabarannya menghadapi bencana dan kesusahan tersebut" (Riwayat Al-Hakim)

Rahmat Allah sangat terbuka buat hamba-hambaNya yang berpaling jauh dariNya agar kembali memohon ampunan dan kasih sayangNya dicurahkan sebanyak-banyaknya serta Allah Maha Terima Taubat hamba-hambaNya yang selalu berbuat kesalahan dan menyesali perbuatannya, selaras dengan sabda Rasulullah mafhumnya:

"Dari Jabir r.a. katanya, dia mendengar Rasulullahi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : Bukan amal seseorang yang memasukkannya ke dalam Syurga atau melepaskannya dari Neraka, termasuk juga aku (Rasulullah), tetapi ialah semata-mata Rahmat Allah belaka" (Riwayat Muslim)

Oleh yang demikian, seorang guru yang mampu memimpin secara zahir dan batin dalam kembali tunduk kepada Allah (mursyid) adalah keperluan yang tidak boleh dipandang ringan kerana setiap masa nafsu manusia naik dan turun tidak menentu, bahkan akan mengheret kepada perkara yang tidak dapat dijangka serta luar dari fikiran kawalan manusia, senada dengan pesanan Imam Malik rahmatullahi 'alaihi katanya :

"Barang siapa yang tidak mempunyai guru mursyid maka Syaitan yang akan menjadi gurunya"

Di bawah bimbingan seorang guru yang mursyid, mudah-mudahan Rahmat Allah berlimpah-limpah secara berterusan kerana manusia telah secara langsung mendapat didikan yang terperinci untuk menundukkan hawa nafsunya. Manusia yang mendapat didikan seorang guru yang mursyid akan dididik sehingga akhlaqnya mirip akhlaq Rasulullah dan para Sahabat Nabi. Mencari seorang guru yang mursyid adalah berkat Rahmat Allah kepada mereka yang bersungguh-sungguh kembali ke jalanNya sahaja, sepertimana kata Imam Al-Ghazali rahmatullahi 'alaihi :

 “Untuk mencari seorang yang mursyid umpama mencari belerang merah.” [a very rare person in common day's communities]

P/S : Usahakan cari seorang guru yang mursyid dengan banyak memohon pimpinan dari Allah, insyaa-Allah, Allah perkenan memperbaiki diri kita kembali ke jalanNya yang benar dan tidak akan sia-siakan permohonan kita itu.

INDAHNYA MENYENDIRI BERSAMA ALLAH SWT


INDAHNYA MENYENDIRI BERSAMA ALLAH SWT

by Muhamad Hafidz Maqmun on Friday, 11 February 2011 at 07:34
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Niscaya aku akan melihat beberapa kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan kebaikan laksana gunung-gunung Tihamah yang putih, kemudian Allah Azza wa Jalla menjadikannya debu yang beterbangan”.
Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, jelaskanlah sifat mereka kepada kami, agar kami tidak menjadi bagian dari mereka sementara kami tidak tahu,” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ketahuilah, mereka adalah saudara kalian, satu bangsa, dan bangun malam sebagaimana kalian. Tapi jika mereka menyendiri dengan larangan-larangan Allah, mereka melanggarnya”
Seseorang mungkin menjauh dari dosa dan maksiat saat berada di hadapan dan dilihat orang lain. Tetapi jika ia menyendiri dan terlepas dari pandangan manusia, ia pun melepaskan tali kekang nafsunya, merangkul dosa dan memeluk kemungkaran.
“Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya”. [al-Isrâ`/17 : 17].
“Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kalian kerjakan”. [al-Baqarah /2 : 74].
Bahkan jika ingin berbuat dosa dan ada seorang anak kecil di hadapannya, ia akan meninggalkan dosa itu. Dengan demikian, rasa malunya kepada anak kecil lebih besar daripada rasa malunya kepada Allah. Andai saat itu ia mengingat firman Allah:
“Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka tampakkan?” [al-Baqarah/2 : 77].
“Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib?” [at-Taubah/9 : 78]
Sungguh celaka wahai saudaraku! Jika keberanian anda berbuat maksiat adalah karena anda meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla tidak melihat, maka alangkah besar kekufuran anda. Dan jika anda mengetahui bahwa Allah mengetahuinya, maka alangkah parah keburukan anda, dan alangkah sedikit rasa malu anda!
“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah mengetahui mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan”. [an-Nisâ`/4 : 108].
Di antara hal yang sangat “ajaib” adalah anda mengenal Allah, tetapi bermaksiat kepada-Nya. Anda mengetahui kadar kemurkaan-Nya, tetapi justru menjatuhkan diri kepada kemurkaan itu. Anda mengetahui betapa kejam hukuman-Nya, tetapi anda tidak berusaha menyelamatkan diri. Anda merasakan sakitnya keresahan akibat maksiat, tetapi tidak pergi menghindarinya dan mencari ketenangan dengan mentaati-Nya.
Qatadah berpesan: “Wahai anak Adam, demi Allah, ada saksi-saksi yang tidak diragukan di tubuhmu, maka waspadailah mereka. Takutlah kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun nampak, karena sesungguhnya tidak ada yang tersembunyi dari-Nya. Bagi-Nya, kegelapan adalah cahaya, dan yang tersembunyi sama saja dengan yang nampak. Sehingga, barang siapa yang bisa meninggal dalam keadaan husnuzhan (berbaik sangka) kepada Allah, hendaklah ia melakukannya, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan izin Allah”
“Kalian sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulit kalian terhadap kalian, tetapi kalian mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kalian kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangka kalian yang telah kalian sangka terhadap Rabb kalian, prasangka itu telah membinasakan kalian, maka jadilah kalian termasuk orang-orang yang merugi”. [Fushshilat/41 : 22-23].
Ibnul-A’rabi berkata: “Orang yang paling merugi, ialah yang menunjukkan amal-amal shalihnya kepada manusia dan menunjukkan keburukannya kepada Allah yang lebih dekat kepadanya dari urat lehernya” [6].
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya”. [Qâf /50:16].

إِذَا مَا خَلَوْتَ الدَّهْرَ يَوْمًا، فَلاَ تَقُلْ خَلَوْتُ وَلَكِنْ قُلْ عَلَيَّ رَقِيْبُ
وَلاَ تَحْسَبَنَّ الله يَغْفُـلُ سَـاعَـةً وَلاَ أَنَّ ماَ تُخْفِيْهِ عَنْهُ يَغِيْـبُ

Saat engkau sedang sendiri jangan katakan aku sendiri,
teapi katakan ada yang senantiasa mengawasi diri ini.
Dan sedikitpun jangan menyangka bahwa Allah lalai,
atau menyangka Dia tak tahu apa yang tersembunyi.
Sungguh takwa kepada Allah dalam keadaan tidak nampak (fil-ghaib) dan takut kepada-Nya dalam keadaan tersembunyi merupakan tanda kesempurnaan iman. Hal ini menjadi sebab diraihnya ampunan, kunci masuk surga. Dan dengannya, seorang hamba meraih pahala yang agung nan mulia.
“Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia”. [Yâsîn/36 : 11]
“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka dalam keadaan tersembunyi akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar”. [al-Mulk/67 : 12].
“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah dalam keadaan tersembunyi dan dia datang dengan hati yang bertobat. Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan Kami memiliki tambahannya”.[Qâf/50 : 31-35].
Dan di antara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:
أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِى الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
“Aku memohon rasa takut kepada-Mu dalam keadaan tersembunyi maupun nampak”.
Maknanya, hendaklah seorang hamba takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun nampak, serta lahir dan batin, karena kebanyakan orang takut kepada Allah dalam keadaan terlihat saja. Namun yang penting adalah takut kepada Allah saat tersembunyi dari pandangan manusia, dan Allah telah memuji orang yang takut kepada-Nya dalam kondisi demikian.
Bakr al-Muzani berdoa untuk saudara-saudaranya: “Semoga Allah menjadikan kami dan kalian zuhud terhadap hal yang haram, sebagaiman zuhudnya orang yang bisa melakukan dosa dalam kesendirian, namun ia mengetahui bahwa Allah melihatnya, maka ia tinggalkan dosa itu”
Sebagian lagi mengatakan: “Orang yang takut bukanlah orang yang menangis dan ‘memeras’ kedua matanya, tetapi ia adalah orang yang meninggalkan hal haram yang ia sukai saat ia mampu melakukannya”

إِذَا السِّرُّ وَالإِعْلاَنُ فِي المُؤْمِنِ اسْتَوَى فَقَدْ عَزَّ فِي الدَّارَيْنِ وَاسْتَوْجَبَ الثَّنَا
فَإِنْ خَالَـفَ الإِعْـلاَنُ سِرًّا فَمَا لَهُ عَلَى سَعْيِهِ فَضْلٌ سِوَى الْكَدِّ وَالْعَنَا

Jika tersembunyi dan tampak bagi seorang mukmin tiada beda,
maka ia telah berhasil di dua dunia dan kita pantas memujinya.
Namun jika yang tampak menyelisihi yang rahasia,
tiada kelebihan pada amalnya, selain penat dan lelah saja.

Hal-hal yang menjadikan takut (khasy-yah) kepada Allah Azza wa Jalla :
1. Iman yang kuat terhadap janji Allah l dan ancaman-Nya atas dosa dan maksiat.
2. Merenungkan kejamnya balasan Allah Subhanahu wa Taala dan hukuman-Nya. Hal ini menjadikan seorang hamba tidak melanggar aturan-Nya, sebagaimana dikatakan al-Hasan al-Bashri: “Wahai anak Adam, kuatkah engkau memerangi Allah? Orang yang bermaksiat berarti telah memerangi-Nya”. Sebagian lagi mengatakan: “Saya heran dengan si lemah yang menentang Sang Kuat”.
3. Kewaspadaan yang kuat terhadap pengawasan Allah dan mengetahui bahwa Allah mengawasi hati dan amalan para hamba, serta mengetahui mereka di manapun berada. Orang yang sadar bahwa Allah melihat-Nya di manapun berada, mengetahui dirinya secara lahir dan batin, mengetahui yang tersembunyi maupun yang nampak, dan ia mengingat hal itu saat menyendiri, maka ia akan meninggalkan maksiat dalam ketersembunyiannya. Wahb bin al-Ward berkata: “Takutlah kepada Allah sebesar kekuasaan-Nya atas dirimu! Malulah kepada-Nya seukuran kedekatan-Nya kepadamu, dan takutlah kepada-Nya karena Dialah yang paling mudah bisa melihatmu”
4. Mengingat makna sifat-sifat Allah, antara lain: mendengar, melihat dan mengetahui. Bagaimana anda bermaksiat kepada yang mendengar, melihat dan mengetahui keadaan anda? Jika seorang hamba mengingat hal ini, rasa malunya akan menguat. Ia akan malu jika Allah mendengar atau melihat pada dirinya sesuatu yang Dia benci, atau mendapati sesuatu yang Dia murkai tersembunyi pada hatinya. Dengan demikian, perkataan, gerakan, dan pikirannya akan selalu ditimbang dengan timbangan syariat, dan tidak dibiarkan dikuasai hawa nafsu dan naluri biologis.
Ibnu Rajab berkata: “Takwa kepada Allah dalam ketersembunyaian adalah tanda kesempurnaan iman. Hal ini berpengaruh besar pada pujian untuk pelakunya yang Allah ‘sematkan’ pada hati kaum mukminin”
Sedang Abu ad-Darda’ menasihati: “Hendaklah setiap orang takut dilaknat oleh hati kaum mukminin, sementara dia tidak merasa. Ia menyendiri dengan maksiat, maka Allah menimpakan kebencian kepadanya di hati orang-orang yang beriman”
Sulaiman at-Taimi berkata: “Sungguh seseorang melakukan dosa dalam ketersembunyiannya, maka iapun terjatuh ke dalam lubang kehinaan”
Ada juga yang mengatakan: “Sungguh, seorang hamba berbuat dosa yang hanya diketahui dirinya dan Allah saja. Lalu ia mendatangi saudara-saudaranya, dan mereka melihat bekas dosa itu pada dirinya. Ini termasuk tanda yang paling jelas akan keberadaan Rabb yang haq, yang membalas amalan –yang kecil sekalipun- di dunia sebelum akhirat. Tidak ada amalan yang hilang di sisi-Nya, dan tiada berguna tirai dan penutup dari kuasa-Nya. Orang berbahagia adalah orang yang memperbaiki hubungannya dengan Allah. Karena jika demikian, Allah akan memperbaiki hubungannya dengan orang lain. Dan barang siapa yang mengejar pujian manusia dengan mengorbankan murka Allah, maka orang yang awalnya memuji akan berbalik mencelanya”
Di antara hal paling ajaib mengenai hal ini adalah kisah yang diriwayatkan dari Abu Ja’far as-Saih: “Habib Abu Muhammad adalah seorang saudagar yang meminjamkan uang dengan bunga. Suatu hari, ia melewati sekumpulan anak kecil yang sedang bermain. Merekapun berbisik di antara mereka: ‘Pemakan riba datang,’ Habibpun menundukkan kepalanya dan berkata: ‘Ya Rabb, Engkau telah sebarkan rahasiaku pada anak-anak kecil,’ lalu ia pulang dan mengumpulkan seluruh hartanya. Ia berkata: ‘Ya Rabb, aku laksana tawanan. Sungguh aku telah membeli diriku dari-Mu dengan harta ini, maka bebaskanlah aku’. Esok paginya, ia sedekahkan seluruh harta itu dan mulai menyibukkan diri dengan ibadah. Suatu hari ia melewati kumpulan anak kecil. Ketika melihatnya, mereka berseru di antara mereka: ‘Diamlah! Habib si ahli ibadah datang,’ Habibpun menangis dan berkata: “Ya Rabb, Engkau sekali mencela, sekali memuji, dan semua itu dari-Mu’.”
Sufyan ats-Tsauri berpesan: “Jika engkau takut kepada Allah, Dia akan menjaga dirimu dari manusia. Tetapi jika engkau takut kepada manusia, mereka tidak akan bisa melindungimu dari Allah”
Ibnu ‘Aun berpisah dengan seseorang, maka ia berwasiat: “Takutlah kepada Allah, karena orang yang takut kepada-Nya tidak akan merasa sendiri”
Sedangkan Zaid bin Aslam berkata: “Dulu dikatakan: Barang siapa takut kepada Allah, orang akan mencintainya, meskipun mereka (pernah) membencinya”

Islam Mementingkan Kasih Sayang


Islam Mementingkan Kasih Sayang

by Akhir Zaman on Friday, 11 February 2011 at 07:16
Hadith
Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud:
“Kasihanilah mereka yang berada di bumi nescaya kamu akan dikasihi oleh mereka yang tinggal di langit”.

(Riwayat at-Tabrani)

Huraian
1. Kasih sayang adalah satu sifat yang terpuji yang amat digalakkan bagi setiap individu Muslim
2. Belaian dan layanan yang mesra akan melahirkan suasana yang mesra, harmoni dan tenang dalam kehidupan. Oleh itu Islam amat menekankan tentang pentingnya nilai kasih sayang dalam sistem kekeluargaan dan juga kehidupan bermasyarakat
3. Antara tumpuan (bentuk) kasih sayang itu adalah:
i. Ucapan dan kata-kata yang menggunakan perkataan yang manis dan bersopan.
ii. Melalui sentuhan yang lemah lembut.
iii. Melalui pujukan, pujian, penghargaan dan senyuman
4. Apabila ditinjau tentang kehidupan masyarakat hari ini ternyata punca perpecahan yang berlaku ialah kerana kurangnya semangat kasih sayang dalam pergaulan mereka. Akibatnya mudahlah musuh Islam menyebarkan pelbagai hasutan dan propaganda agar umat Islam terus berpecah dan bertelingkah sesama sendiri yang akhirnya membawa kepada kejatuhan umat.

Kisah Nyata atau Dongeng?


Kisah Nyata atau Dongeng?

by Catatan Catatan Islami on Friday, 11 February 2011 at 07:06
Saya akan menceritakan beberapa kisah nyata dan saya jamin Anda akan merasakannnya sebagai sekedar dongeng. Bukan karena Anda tidak mempercayai saya atau sumber-sumber dari mana saya memperoleh kisah-kisah nyata itu; namun terutama karena kita hidup di zaman yang jauh lebih absurd dari dongeng. Atau karena kehidupan kita sudah sedemikian jauh meninggalkan norma-norma nyata dalam kehidupan kemanusiaan.

Baiklah saya mulai saja. Anda sudah siap mengikuti kisah-kisah saya? Inilah:

1. Suatu hari ada seorang tua miskin datang kepada Syeikh –kalau sekarang mungkin dipanggil kiai– Sa’id bin Salim, hendak menyampaikan sesuatu keperluan meminta tolong kepada tokoh masyarakat yang disegani itu. Seperti laiknya orang yang sudah tua renta, selama berbicara mengutarakan hajatnya, si orang tua miskin itu bertelekan pada tongkat penopang ketuaannya. Dan tanpa disadari, ujung tongkatnya itu menghunjam pada kaki syeikh Sa’id hingga berdarah-darah. Seperti tidak merasakan apa-apa, Syiekh Sa’id terus mendengarkan dengan penuh perhatian keluhan wong cilik itu.
Demikianlah; ketika orang tua itu sudah mendapatkan dari Syeikh apa yang ia perlukan dan pergi meninggalkan majlis, orang-orang yang dari tadi memendam keheranan pun serta-merta bertanya kepada Syeikh Sa’id: “Kenapa Syeikh diam saja, tidak menegur, ketika orang tua tadi menghunjamkan tongkatnya di kaki Syeikh?”
“Kalian kan tahu sendiri, dia datang kepadaku untuk menyampaikan keperluannya;” jawab Syeikh Sa’id sambil tersenyum, “Kalau aku mengaduh atau apalagi menegurnya, aku khawatir dia akan merasa bersalah dan tidak jadi menyampaikan hajatnya.”

Lihatlah. Bukankah kisah di atas bagaikan dongeng saja?! Mana ada pemimpin atau tokoh masyarakat yang begitu tinggi menempatkan keperluan orang yang memerlukan bantuan dalam perhatiannya? Kalau pun ada, mungkin untuk menemukannya bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami sekarang ini.

2. Syeikh Hasan Al-Bashari, siapa yang tak mengenal tokoh ulama dan sufi di penghujung abad pertama ini? Beliau tinggal bertetangga dengan seorang Nasrani. Apartemen si Nasrani di atas dan beliau di bawah. Bertahun-tahun mereka bertetangga, belum pernah si Nasrani datang bertandang ke apartemen Syeikh Hasan. Baru ketika Syeikh Hasan jatuh sakit, si Nasrani datang menjenguk.
Ketika menjenguk itulah, si Nasrani baru tahu betapa sederhana kehidupan Syeikh Hasan yang sangat terkenal kebesarannya itu. Tapi yang lebih menarik perhatian si Nasrani adalah adanya sebuah baskom berisi air keruh yang terletak di dekat balai-balai tempat tidur Syeikh Hasan. Apalagi ketika ada tetesan air jatuh tepat dari atas baskom. Spontan si Nasrani teringat kamar mandinya di atas. Dengan ragu-ragu si Nasrani pun bertanya: “Syeikh, ini baskom apa?’
“Ah baskom itu, sekedar penampung tiris;” jawab Syeikh wajar-wajar saja, “Setiap kali penuh baru saya buang.”
“Sudah berapa lama Syeikh melakukan ini?” tanya si Nasrani lagi dengan suara gemetar, “maksud saya menampung tiris dari atas ini?”
“Ya, kurang-lebih sudah dua puluh tahun;” jawab Syeikh kalem, “jadi sudah terbiasa.”
Mendengar itu, si Nasrani langsung menyatakan syahadat. Mengakui Tuhan dan Rasul-nya Syeikh Hasan Al-Bashari, Allah swt dan Nabi Muhammad saw.

Seperti dongeng bukan? Dimana kini Anda bisa menjumpai orang yang menjunjung tinggi ajaran menghormati tetangga seperti Hasan Al-Bashari itu?

3. Datang seseorang melarat kepada sang pemimpin mengeluhkan kondisinya yang sangat lapar. Sang pemimpin pun bertanya kepada isterinya kalau-kalau ada sesuatu yang dapat disuguhkan kepada tamunya. Ternyata di rumah sang pemimpin yang ada hanya air. Sang pemimpin pun bertanya kepada orang-orang di sekelilingnya, “Siapa yang bersedia menjamu tamuku ini?”
“Saya;” kata seseorang. Lalu orang ini pun segera pulang ke rumahnya sendiri membawa tamunya.
“Saya membawa tamunya pemimpin kita, tolong sediakan makanan untuk menjamunya!” katanya kepada isterinya.
“Wah, sudah tidak ada makanan lagi, kecuali persiadaan untuk anak-anak kita;” bisik sang isteri.
“Sibukkan mereka;” kata suaminya lirih, “kalau datang waktunya makan, usahakan mereka tidur. Nanti kalau si tamu akan masuk untuk makan, padamkan lampu dan kita pura-pura ikut makan, ya!”
Demikianlah keluarga itu menjalankan skenario kepala rumah tangganya. Dan mereka menahan lapar mereka sendiri hingga pagi.
Esok harinya sebelum laporan, sang pemimpin yang tidak lain adalah Rasulullah saw, sudah menyambut kepala rumah tangga –seorang shahabat Anshor– itu dengan tersenyum, sabdanya: “Allah takjub menyaksikan perlakuan kalian berdua terhadap tamu kalian semalan.”

Anda tahu kisah ini bukan dongeng, karena ini hadis muttafaq ‘alaih yang bersumber dari shahabat Abu Hurairah r.a. Tapi tetap saja kedengarannya seperti dongeng, bukan ?!

Tiga kisah itu hanyalah sekedar contoh, yang lainnya masih banyak lagi. Anda bisa dengan mudah menjumpainya di kitab-kitab Anda, di kitab suci Al-Quran, di kitab-kitab Hadis, dan kitab-kitab salaf pegangan kita yang lain. Hampir semuanya, bila Anda baca, Anda akan merasa seperti membaca contoh-contoh di atas. Merasa seperti membaca dongeng. Kalau benar demikian, bukankah ini pertanda bahwa kondisi kehidupan kita –masya Allah!—sudah semakin jauh saja dengan kondisi ideal seperti yang dicontohkan oleh Salafunaas Shaalihuun, para pemimpin dan pendahulu kita yang saleh-saleh.

Wallahu a’lam.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari membaca notes ini
Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat.
____________________
Source from mailist huttaqi, get from gusmus.net
Shared by Catatan Catatan Islami Pages
 ·  · Share

'ASAL


'ASAL

by Keluarga Sakinah on Friday, 11 February 2011 at 06:07
Kesembuhan ada pada 3 hal....1. Minum madu....2. Sayatan alat bekam....3. Membakar dengan api....Aku melarang umatku berobat dengan pembakaran. [ HR. SHAHIH BUKHARI 5680 dari Salim Al Afthas dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas ra ]....Seorang laki - laki datang kepada Nabi SAW dan berkata....Saudaraku menderita sakit perut....Beliau bersabda : Berilah minum madu....Kemudian dia datang untuk kedua kalinya dan beliau bersada : Berilah minum madu....Lalu datang pada ketiga dan beliau bersabda : Berilah minum madu....Setelah itu dia datang lagi dan berkata, Aku telah melakukannya....Beliau bersabda : Allah benar dan perut saudaramu telah dusta....Berilah dia minum madu....Dia pun memberinya minum madu lalu saudaranya itu sembuh. [ HR. SHAHIH BUKHARI 5684 dari Qatadah dari Abu Al Mutawakkil dari Sa'id ].

Keluarlah dari perutnya ( lebah ) minuman yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan manusia. [ An-Nahl : 69 ].

Al Muwaffiq Al Baghdadi dan selainnya mengatakan bahwa madu mengandung banyak sekali manfaat pada kesehatan tubuh manusia dan manfaat lainnya atas izin Allah SWT....Ia dapat membersihkan kotoran - kotoran dalam pembuluh darah dan usus, mencegah zat - zat reduksi yang merusak dan membersihkan kotoran dalam perut.

Jika diminum secara teratur maka atas izin Allah madu dapat menjadikan suhu panas yang normal pada tubuh, membuka pembuluh darah, menguatkan lambung, liver, ginjal dan jalur - jalur pembuangan....membersihkan paru - paru dan liver, memperlancar air seni dan haid dan memudahkan mengencerkan batuk dan dahak.

Apabila ditambahkan kepadanya cuka maka bermanfaat bagi penderita penyakit kuning....Jika diminum dalam keadaan hangat dan dicampur minyak bunga ( niknak ) maka bermanfaat mengobati gigitan binatang.

Kalau daging segar diolesi madu maka kesegarannya akan tetap terjaga sampai dengan 3 bulan....demikian juga dengan buah - buahan dan sayur - sayuran maka akan menjadikannya kesegarannya bisa bertahan lebih lama dari biasanya....Apabila digosokkan ke gigi maka gigi akan menjadi putih, kuat dan sehat.

Hal yang paling mudah dan sederhana untuk menjaga kesehatan dengan minum beberapa sendok madu setiap hari....dan bisa dicampurkan kedalam minuman yang membutuhkan pemanis sebagai pengganti....bahkan dicampurkan dengan sesuatu yang pahit untuk menghilangkan rasa pahitnya.

Total kalori yang dihasilkan madu tiap 100 gramnya adalah 294 kalori. Ini memang lebih kecil dibanding gula yang menghasilkan 364 kalori tiap gramnya. Namun hal ini bisa diabaikan jika melihat kandungan zat dan manfaat madu yang bersifat alami. Gula memerlukan proses pemecahan menjadi gula sederhana sebelum dimanfaatkan oleh tubuh. Jadi gula membutuhkan waktu dan tambahan energi dari tubuh sebelum diserap dan dimanfaatkan tubuh. Maka kita dapat menambahkan madu dalam pola makan sehari-hari sebagai ganti gula dan penyedia energi yang langsung dapat diserap oleh tubuh.

Madu memiliki kandungan gizi tinggi antara lain zat gula ( glukosa dan fruktosa ), asam amino, dan vitamin. Kandungan mineral dalam madu antara lain kalium, natrium, kalsium, magnesium, zat besi, phosphor, mangan, dan sulfur. Kandungan vitaminnya antara lain thiamin, riboflavin, niasin, asam pantotenat, piridoksin, dan asam askorbat.
Dilihat dari kandungan asam folatnya, madu sangat baik dikonsumsi ibu hamil. Asam folat merupakan nutrien penting bagi pertumbuhan janin. Kekurangan asam folat pada masa awal kehamilan dapat menyebabkan bayi yang lahir beresiko besar mengalami cacat bawaan pembuluh syaraf.

Madu yang diberikan kepada bayi yang telah makan dan minum selain ASI, dapat memacu pertumbuhan sel darah merah dan otaknya. Madu juga baik bagi pertumbuhan gigi bayi. Karena, madu mengandung antibiotika yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk.
 ·  · Share

SEBUAH RENUNGAN UNTUK YANG MENGATAKAN SEDANG BERJUANG (JUST KIDDING)


SEBUAH RENUNGAN UNTUK YANG MENGATAKAN SEDANG BERJUANG (JUST KIDDING)

by Melati on Sunday, 07 November 2010 at 14:11
SEBUAH RENUNGAN UNTUK YANG MENGATAKAN SEDANG BERJUANG (JUST KIDDING)

oleh NuerHidayah Siregar


ikhwan apa bakwan
wajah penuh jerawatan
katanya karena mikirin ummat yang jutaan
tidak tahunya mikirin akhwat idaman

ikhwan apa bakwan
dari jauh nampak sopan
berjalan gagah pengen jaga pandangan
ternyata mata juga jelalatan

ikhwan apa bakwan
kalo taklim serius tahan godaan
liat ustad penuh perhatian
tapi sama akhwat kelepek-kelepek belingsatan

ikhwan apa bakwan
wajah santun jenggotan
pengen nyunah rosul tauladan
apa daya cuman bergaya biar terlihat tampan...


PENGEN NGINGETIN AZA WAN!

ada apa dengan ikhwan
mau nikah malah kelamaan
akhwatnya sudah menanti ampe jamuran (ups)
tapi tuh ikhwan gak juga khitbah akhwat idaman

ada apa dengan ikhwan
mau nikah mikirnye kelamaan
mikir makan, anak dan kontrakan
tenang Wan ente kan punya Allah yang bisa kasih bantuan

ada apa dengan ikhwan
mau nikah banyak aturan
harus cantik, putih, kaya dan menawan
inget dong apa yang rosul telah katakan

ada apa dengan ikhwan
mau nikah banyak alasan
gaji, kuliah, sampe ortu jadi sasaran
kasihan kan akhwat yang cantik nunggu kelamaaan

ada apa dengan ikhwan
baca beginian sampe marah dan menaruh dendam
peace Wan, peace Wan
cuman mengingatkan Wan(nyok makan Bakwan)..hehe


IKHWAN : APA HANYA SEBUTAN

oh.. ikhwan
apa bedanya dengan si marwan
si ali, palijo, atau si iwan
oh ternyata cuma sebutan

oh.. ikhwan
walaupun tidak rupawan
alias modal tampang pas-pasan
tetep aja tebar senyuman

oh.. ikhawan
gayanya sih bisa ketebak dan keliatan
jenggot melambai, baju koko, dan sendal jepit usang
sesekali komat-kamit sambil jalan

oh.. ikhwan
nyarinya susah-susah gampang
kadang di mesjid, kampus or sekolahan
mungkin juga lagi nyari sampingan
ngga taunya buat biaya walimahan :)

oh.. ikhwan
ngomonginnya masalah aksi dan kepartaian
juga liqo'an dan hafalan
kata orang "ngga ada bahasan lain, Wan?"

oh.. ikhwan
anehnya kalo lagi jalan
ngukurin tanah apa ngitung lantai sih, Wan?
oh.... ternyata dia lagi jaga pandangan !!!

ikhwan.. ikhwan..
lucunya kalo akhwat sedang berpapasan
langsung minggir!, acuh tak acuh kaya' musuhan
(gubrak!!! apaan tuh Wan?)
eh... dia jatuh,kagak ngeliat selokan :))

oh.. ikhwan, apa semuanya begitu, Wan?
ada ngga yang masih tebar pesona dan jelalatan?
berarti itu bukan ikhwan, (kan cuma sebutan?!!)
nah para akhwat,hati-hati mungkin dia nyari pasangan...

-the end-

semoga bisa menjadi bahan perenungan, bahwa 'ikhwan' dan
'aktivis' bukan hanya sekedar sebutan saja, melainkan sesuatu yang memiliki konsekwensi besar
yang harus dilaksanakan layaknya seorang ikhwan...

wallahu'alam


Tq:@h
 ·  ·

SEBARKAN = Para Pahlawan Mati-Matian Mengusir Penjajah, Kini Malah Ada Yang Menyambut Penjajah (Obama)


SEBARKAN = Para Pahlawan Mati-Matian Mengusir Penjajah, Kini Malah Ada Yang Menyambut Penjajah (Obama)

by Komunitas Rindu Syariah & Khilafah on Tuesday, 09 November 2010 at 02:35
Perjuangan para pahlawan dalam rangka mengusir penjajah dilakukan dengan pengorbanan yang luar biasa besarnya. Berkorban harta maupun jiwa, berkucur keringat, air mata bahkan juga darah. Selama 3,5 abad Indonesia di jajah, diperas, diperlakukan tak senonoh oleh kaum penjajah. Dalam rentang waktu itulah muncul sosok-sosok pemberani, pengobar semangat perlawanan terhadap kaum kolonial.

Sebagai contoh adalah Soedirman, lelaki shalih asal purbalingga yang semasa hidupnya ia gunakan untuk mengabdi kepada Allah. Soedirman paham betul bahwa Jihad melawan agresor penjajah merupakan kewajiban bagi tiap Muslim. Ia  pernah bertutur dengan kutipan sebuah hadits: "Insjafilah! Barangsiapa mati, padahal (sewaktoe hidoepnja) beloem pernah toeroet berperang (membela keadilan) bahkan hatinya berhasrat perang poen tidak, maka matilah ia diatas tjabang kemoenafekan". Meskipun dalam keadaan sakit, Soedirman tetap berjihad, bergerilya.

Begitu pula Soetomo, sangat masyur dengan sebutan Bung Tomo. Pekikkan takbirnya menggelegar, membuat gemetar setiap musuh yang mendengar. Petikkan pidatonya seperti ini: "“Dan kita jakin, saoedara-saoedara, pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita, sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar, pertjajalah saoedara-saoedara, Toehan akan melindungi kita sekalian, Allahu Akbar..! Allahu Akbar..! Allahu Akbar…!.

Berikutnya adalah pangeran Diponegoro, Seorang pria dengan jubah putih dan sorban putih yang mellilit di kepalanya ini adalah juga seorang pahlawan pembela Islam. Suatu saat ketika ditangkap Belanda, ia menunjukkan jati dirinya pada Jendral De Kock " “Namaningsun Kangjeng Sultan Ngabdulkamid. Wong Islam kang padha mukir arsa ingsun tata. Jumeneng ingsun Ratu Islam Tanah Jawi”  Artinya "Nama saya adalah Kanjeng Sultan Ngabdulkhamid, yang bertugas untuk menata orang Islam yang tidak setia, sebab saya adalah Ratu Islam tanah Jawa".

Banyak lagi figur-figur pahlawan Islam yang telah menorehkan tinta emas perjuangan dalam mengusir agresi militer para penjajah, baik yang dikenal maupun yang tak dikenal. Dalam peristiwa bersejarah 10 November di Surabaya, yang kini diperingati sebagai hari pahlawan, ribuan, kyai dan santri berbondong-bondong untuk memenuhi seruan Jihad para ulama. Dalam benak mereka hanya ada dua pilihan  "Merdeka (hidup mulia) atau mati syahid".

Atas berkat rahmat Allah (sebagaimana dalam preambule UUD 45) para pahlawan berhasil mengusir penjajah dan Indonesia mendapatkan kemerdekaan. Kita patut bersyukur akan hal itu. Namun perlu juga untuk di pahami,  perjuangan melawan penjajahan belumlah usai, negri ini belumlah sepenuhnya merdeka. Jika dahulu penjajahan bersifat fisik, kini dalam bentuk non fisik. Maka perlawananannya pun juga harus bersifat non fisik. Ekonomi kita masih di jajah, begitu pula di bidang politik, sosial maupun budaya.

Sistem ekonomi kapitalisme yang di pakai membuat sumber daya alam Indonesia dikuras oleh penjajah. Sebagai contoh adalah tambang emas di Papua yang dikuasai oleh perusahaan asing freeport milik Amerika, demikian juga dengan tambang minyak di Cepu dan Natuna. Data dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) 2008, sebanyak 329 blok migas di tangan asing. Mungkin jika diletakkan titik-titik pada peta Indonesia, maka Indonesia sudah tergadaikan.

Sistem politiknya menggunakan politik yang opurtunistik. Dimana aktivitas perpolitikan tak bisa merumuskan penyelesaian segala persoalan bangsa ini sesuai dengan kerangka ideologi yang shahih. Seringkali masyarakat disuguhi dengan praktek-praktek kompromi politik yang tak lepas dari syahwat kepentingan pragmatis. Politik dagang sapi selalu mewarnai perjalanan politik di indonesia. Tak pelak rakyat yang tetap menderita. Kedaulatan di tangan rakyat milik demokrasi dengan slogan "dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat" yang didengung-dengungkan selama ini ternyata hanyalah semboyan tipu-tipu. Bagaimana tidak, kalau benar-benar untuk rakyat kenapa selama ini yang banyak untung menikmati kekayaan alam hanyalah asing dan  konglomerat. Rakyat tetap saja buntung, bung!

Sisi sosial-budaya, kebudayaan hedonis yang notabene berasal dari barat juga masih banyak digandrungi oleh masyarakat. Penampakannya berupa: freeseks, kenakalan remaja, narkoba, fashion anti menutup aurat dan lain sebagainya.

Kesimpulannya adalah saat ini Indonesia masih di jajah. Disini juga terbukti jikalau sistem sekulerisme-demokrasi-kapitalisme-lah ancaman yang sesungguhnya bagi Indonesia, jadi salah jika mengatakan syariah dan khilafah adalah ancaman.

Spirit perjuangan para pahlawan dalam mengusir penjajah kala itu semestinya juga dapat menginspirasi kita untuk meneruskan perjuangan mereka. Perjuangan harus terus di gelorakan dan syariah Islamlah solusi yang tepat untuk mengatasi seluruh problematika yang ada, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Secara empiris, Islam terbukti mampu memberikan kesejahteraan selama berabad-abad lamanya kepada umat manusia. Sedangkan dari sisi aqidah, ini adalah sebuah tuntutan untuk di terapkan. 

Namun sungguh ironis, di tengah-tengah momentum hari pahlawan ini, Indonesia malah menyambut kedatangan pemimpin negara penjajah, yang tak lain dan tak bukan ialah Barack Obama. Padahal dia datang untuk memperkokoh penjajahan secara komrehensif, bahasa halusnya "kemitraan komprehensif". Meminjam istilah ust. Ismail Yusanto; Obama datang memberi sepiring nasi, saat pulang membawa lumbung padi". Memang begitu realitanya.

Meneruskan perjuangan para pahlawan atau meneruskan penjilatan kaum penjilat terdahulu? sampai kapan negri ini akan terus memiliki mental terjajah? Semoga Allah segera memberikan pertolongan. Amin. Wallahu a'lam bi-ash -showab.





By: Ali Mustofa