Pages

There was an error in this gadget

Wednesday, 19 October 2011

Wahai Anakku...


Wahai Anakku...

by Abu Hanifah II on Sunday, 26 December 2010 at 12:58

Teruntuk anakku nun disana...

Anakku...
Ini adalah surat dari ibumu yang lemah. Aku menuliskannya dalam keadaan malu, setelah keragu-raguan dan penantian panjang. Berkali-kali aku menahan untuk menggenggam pena. Akan tetapi, air mata menghalangi dan menghentikannya, maka mengalirlah rintihan hati.

Anakku...
Setelah umur panjang ini, kulihat engkau telah menjadi seorang pria dewasa yang memiliki akal sempurna dan keseimbangan emosional. Dan engkau berkewajiban membaca lembaran ini. Lalu jika engkau ingin, robeklah ia sebagaimana engkau telah merobek-robek sisi-sisi hatiku sebelumnya.

Anakku...
Dua puluh lima tahun lampau adalah hari yang benderang dalam hidupku. Ketika dokter memberitahuku bahwasanya aku hamil!. Para ibu, wahai Ananda, tahu betul makna kata-kata ini. Ia adalah campuran dari gembira dan bahagia, dan permulaan perjuangan di samping perubahan-perubahan psikis dan psikologis...

Setelah kabar gembira ini, aku mengandungmu selama sembilan bulan dalam perutku dengan penuh kegembiraan. Aku berdiri, tidur, makan, dan bernafas dengan payah. Akan tetapi, itu semua sama sekali tidak mengurangi kecintaan dan kegembiraanku dengan kehadiranmu. Bahkan, cinta dan kerinduan kepadamu terus tumbuh dan berkembang hari demi hari.

 

Aku mengandungmu hai anakku, dengan kesusahan diatas kesusahan, kepedihan diatas kepedihan. Aku gembira dengan gerakanmu, senang dengan bertambahnya bobotmu, padahal itu adalah beban yang berat bagiku...

Sungguh itu adalah masa-masa berat nan panjang. Setelah datang fajar yang membelah malam, dimana ku tidak dapat memejamkan mata. Aku menahan sakit, pedih, takut, dan cemas yang takkan mungkin pena ini dapat melukiskannya, dan lisan ini dapat menggambarkannya.

Sakitku kian bertambah hingga aku tak sanggup lagi menangis. Berkali-kali aku melihat kematian dihadapan mataku. Sehingga engkau keluar ke dunia ini, maka bercampurlah air mata kegembiraanku yang menghapus segala kepedihan dan lukaku, bahkan aku merindukanmu betapapun pedih lukaku. Dan aku menciummu sebelum setetes air pun membasahi tubuhmu.

Wahai anakku...
Tahun demi tahun umurmu terus berlalu. Aku terus membawamu dihatiku, dan memandikanmu dengan tanganku. kujadikan haribaanku sebagai kasurmu, dadaku sebagai makananmu. Aku begadang malam hari agar engkau dapat tidur dengan pulas. Dan aku merasakan lelalh dan kantuk disiang hari.

Harapanku sepanjang hari adalah melihat senyumanmu; dan kegembiraanku setiap saat adalah engkau meminta sesuatu yang kubuatkan untukmu. itulah puncak kebahagiaanku.

Siang dan malam terus berlalu, sedangkan aku terus dalam kondisi seperti itu; melayanimu tanpa jemu, dan menyusuimu tanpa henti, bekerja tanpa lelah, dan mengajakmu pada kebaikan, serta membimbingmu tanpa putus asa. Aku merawatmu hari demi hari sehingga engkau tumbuh menjadi kuat, menjadi seorang pemuda, dan tampak padamu tanda-tanda kedewasaan. Lalu akupun berlari kian kemari mencarikan wanita idamanmu.

Tibalah saat pernikahanmu. Hari engkau bersanding, maka hatiku terasa terputus. Air mataku mengalir karena gembira tetapi sedih karena akan berpisah denganmu.

Malam-malam telah menjadi kelam, hari-hari kian panjang, aku tidak melihatmu dan tidak mendengar suaramu, dan engkau masa bodoh dengan sebaik-baik orang yang merawatmu.


Wahai anakku...
Jadikan aku seperti kedudukan temanmu yang paling jauh! Jadikanlah aku wahai anakku, salah satu terminal bulanan dalam kehidupanmu agar aku dapat melihatmu walau hanya sesaat...

Wahai anakku...
Tulang punggungku telah rapuh, jemarikupun telah gemetaran, serta penyakit telah menggerogoti tubuhku dan melemahkanku. Aku berjalan, berdiri dan duduk dengan susah payah, namun hatiku masih tetap penuh dengan cinta dan kasih kepadamu.

Jika suatu hari ada seseorang yang memuliakanmu, tentulah engkau akan memujinya atas perbuatan baiknya itu. Sementara ibumu telah berbuat baik terhadapmu dengan kebaikan yang tidak oernah engkau lihat sebelum dan sesudahnya. Ibumu telah berkhidmat untukmu tahun demi tahun...

Wahai anakku...
Setiap kali aku mengtahui engkau bahagia dalam kehidupanmu bertambah kegembiraan dan kebahagiaanku. Jadikanlah aku seperti seluruh pembantumu yang engkau beri upah dan berilah aku upah berupa kasih sayangmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. 

Duhai anakku...
Aku berangan-angan untuk melihatmu dan tidak menginginkan selain dari itu. Biarkanlah aku melihat masamnya mukamu, pahitnya senyummu, dan gelegak amarahmu...

Wahai anakku...
Hatiku hancur, air mataku mengucur. Aku bersyukur engkau telah hidup berlimpah rezeki. Banyak orang selalu membicarakan kebaikan akhlakmu serta kedermawananmu. Aku, seorang wanita lemah yang telah digerogoti kerinduan, dicambuk kesedihan. Seorang wanita yang menjadikan kesedihan sebagai syiarnya dan keresahan sebagai selimutnya.

Duhai anakku...
Inilah pintu surgamu. Laluilah ia. Ketuklah pintunya dengan senyum tulus, permohonan maaf, serta pertemuan yang baik. Semoga aku menemuimu disana dengan rahmat Tuhanku sebagaimana Rasulullah pernah bersabda,

"Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah, jika engkau ingin, maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah ia..." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Anakku...
Sejak engkau menjadi pemuda, yang mencari dan mengharapkan pahala. Tapi sekarang engkau melupakan hadits Nabi,

"Sesungguhnya sebaik-baik amalan kepada Allah shalat tepat pada waktunya, kemudian berbakti kepada kedua orang tua, kemudian berjihad dijalan Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)


Inilah dia pahala itu. Tanpa perlu memancung tenggorokan dan menumpahkan darah di medan jihad. Sesungguhnya aku berdo'a semoga engakau tidak termasuk golongan yang dikatakan Nabi Shallallahu alaihi wassallam,

"Sunguh celaka, sungguh celaka, sungguh celaka!" Dikatakan, "Siapa ya Rasulullah?" Beliau bersabda, "Seorang yang mendapatkan kedua orang tuanya di usia tua, salah satu atau keduanya, kemudian dia tidak masuk surga..." (HR. Muslim)

"Maukah kalian aku sampaikan tentang dosa yang terbesar?" Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengucapkannya tiga kali. Para sahabat menjawab, "Ya, wahai Rasulullah". Beliau bersabda, "Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." (HR. Bukhari).

"Tidak masuk surga orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya." (HR. Ahmad).

"Tiga golongan orang yang tidak akan dilihat (dengan pandangan rahmat) oleh Allah pada hari kiamat; orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, orang yang suka minum minuman keras, orang yang suka mengungkit pemberiannya." (HR. Nasaai dan dinyatakan shahih oleh Albani).

"Terlaknat orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya." (HR. Hakim dan Thobrani serta dinyatakan shahih oleh Albani dalam Shahih at-Targhib wat-Tarhib, 2/334).

Wahai anakku...
Aku tidak akan mengangkat keluhanku dan tidak mengungkap kesedihanku kepada Allah, karena jika keduanya membumbung tinggi keatas awan, lalu sampai kepintu langit... Niscaya engkau akan ditimpakan azab dan kesialan perbuatan durhaka, yang turun kepadamu, dan keluargamu akan ditimpa musibah.

Tidak! Aku tidak akan melakukan itu wahai anakku... Engkau tetap belahan jantungku, penyejuk hatiku, dan perhiasan duniaku...

Uban telah menghiasi rambutmu duhai anakku. Engkau akan semakin tua. Suatu saat engkau akan menulis surat kepada anak-anakmu dengan airmata, sebagaimana aku menuliskannya kepadamu. Dan dihadapn Allah semua akan dikumpulkan dan diadili.

Wahai anakku...
Takutlah kamu kepada Allah. Perlakukanlah ibumu dengan baik. Seka airmatanya, hapus luka dan kesedihannya. Walau luka tetap akan meninggalkan goresan. Sesungguhnya surga ada diantara kedua telapak kaki ibumu. 

Camkanlah wahai Anakku!
Ketuaan mulai nampak dalam belahan rambutmu. Tahun demi tahun akan berlalu, dan engkau akan menjadi tua renta, sedangkan setiap perbuatan pasti akan dibalas setimpal. Engkau akan menulis surat kepada setiap anak-anakmu dengan cucuran air mata, sebagaimana yang ibu tulis untukmu. Dan di sisi Allah, akan bertemu orang-orang yang berselisih, hai Anakku. Maka bertakwalah engkau kepada Allah terhadap ibumu. Usaplah air matanya dan hiburlah agar kesedihannya sirna.

Robek-robeklah surat ini setelah engkau membacanya. Namun ketahuilah, siapa saja yang beramal shaleh, maka keshalehan itu buat dirinya sendiri, dan siapa yang berbuat jahat, maka balasan buruk bakal menimpanya.

"Barangsiapa mengerjakan kebajikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa berbuat jahat, maka (dosanya) menjadi tanggungannya sendiri. Dan Rabbmu sekali-kali tidaklah menzalimi hamba-hamba-Nya." (QS. Fushshilat: 46).

Ibumu yang merindukan....

Karya :  Abu Zubeir Hawary (2007). Wahai Ibu Maafkan Anakmu.

Share

No comments:

Post a Comment