ZIONISME Gerakan Menaklukkan Dunia (3)
by Paul Bee Godhick on Saturday, 14 August 2010 at 01:04
oleh : ZA. Maulani
BAB-1 : YAHUDI, ZIONISME DAN ISRAEL
KITA HARUS MEMAKSA PEMERINTAHAN "NON-YAHUDI" UNTUK MENERIMA LANGKAH-LANGKAH YANG AKAN MENINGKATKAN SECARA LUAS RENCANA YANG TELAH KITA BUAT YANG TELAH KIAN DEKAT DENGAN TUJUANNYA DENGAN CARA MELETAKKAN TEKANAN PADA PENDAPAT UMUM YANG TELAH KITA AGENDAKAN YANG HARUS DIDORONG OLEH KITA DENGAN BANTUAN APA YANG DINAMAKAN "KEKUATAN BESAR" PERS. DENGAN SEDIKIT PERKECUALIAN, TAK PERLU DIPIKIRKAN, KEKUATAN ITU TELAH BERADA DALAM GENGGAMAN KITA ("Protokol Zionis yang Ketujuh").
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Program Pengusiran Penduduk Arab Palestina
Penduduk Arab-Palestina masih merupakan mayoritas sampai dengan terbentuknya Israel sebagai sebuah negara Yahudi pada bulan Mei 1948. Negara Israel yang dicita-citakan oleh Theodore Herzl hanya akan dapat terwujud dengan cara menghapus hak-hak kaum mayoritas, yaitu penduduk Arab-Palestina, atau mengubahnya membuat kaum Yahudi Kongres Zionist pertama di Bazel, 1897 menjadi mayoritas melalui imigrasi, atau mengurangi jumlah penduduk Arab di Palestina melalui cara pembersihan etnik. Tidak ada cara lain, dan tidak mungkin membentuk sebuah negara Yahudi, kecuali dengan cara di luar prosedur demokratik tadi.
Pengusiran penduduk Arab-Palestina merupakan keharusan yangmengalir dari logika Zionisme sebagaimana dengan sangat jelasdikatakan oleh Theodore Herzl sejak 12 Juni 1895. Pada waktu itu iabaru merumuskan gagasannya tentang Zionisme dan menuliskannya dalam buku hariannya, "Kami harus mencoba mengeluarkan kaum tidak berduit (baca: Palestina) dari perbatasan dengan cara menyediakan pekerjaan di negara-negara tetangga, dan bersamaan dengan itu, mencegah mereka memperoleh lapangan kerja di negeri kami. Kedua proses, baik penghapusan kepemilikan dan pemindahan kaum miskinitu, harus dikerjakan dengan kehati-hatian dan kewaspadaan". Pemikiran ini dibenarkan oleh sebagian besar pendukung Zionisme sejak awal, sebagaimana dibuktikan oleh fakta bahwa thema tentang pengusiran secara konsisten terus menjadi pemikiran kaum Zionis. Jadi sejak awal impian kaum Zionis mendirikan negara Yahudi mengacu kepada dua sasaran yang bersifat komplementer dan sekaligus mutlak, yaitu: (1) mendapatkan sebuah tanah air, dan (2) menggantikan penduduk mayoritas Arab-Palestina baik dengan cara tidak mengakui hak-hak mereka, mengatasi jumlah mereka, atau mengusir mereka dengan cara apa pun. Meskipun Theodore Herzl dan kaum Zionis lainnya menjanjikan bahwa orang Yahudi dan Arab-Palestina akan hidup berdampingan secara damai dan bahagia, namun tidak ada jalan lainyang terbuka untuk mendirikan negara Yahudi di Palestina sebagaimana yang didambakan oleh kaum Zionis kecuali dengan cara-cara tersebutdi atas.
Kaum pendahulu Zionis menempuh beberapa strategi untuk mencapai tujuan mereka. Pertama, melalui imigrasi orang Yahudi; pada saat awalitu banyak kaum Zionis dan para pendukungnya yang sungguh-sungguh percaya bahwa imigrasi orang Yahudi dalam jumlah besar akan dapat dalam waktu singkat memecahkan "masalah Palestina" dengan membangun masyarakat Yahudi sebagai mayoritas. Kedua, yang lain meyakini, bilamana sejumlah petani dan buruh Arab-Palestina ditutup kesempatan kerjanya, maka hasilnya akan memaksa orang Arab-Palestina bermigrasi meninggalkan Palestina. Ketiga, dalam kenyataannya, kedua rencana di atas itu kurang begitu diketahui, karena rencana ini lebih banyak diperbincangkan di koridor-koridor kekuasaan di Berlin, London, dan Washington, dalam rangka mendapatkan tajaan('sponsorship') dunia internasional, sekaligus untuk mendapatkan legitimasi terhadap klaim kaum Yahudi sebagai imbangan terhadap hak-hak kaum mayoritas penduduk Arab-Palestina.
Kaum Zionis mengembangkan strategi ini secara serentak. Ada yang berhasil dan ada pula yang kurang berhasil. Namun pada akhirnya opsi yang terbuka tinggal pengusiran secara paksa sebagai cara untuk dapat mendirikan negara Yahudi yang mereka impikan.
Sementara itu berkembang strategi baru Zionisme, yaitu mendelegitimasi-kan masyarakat Arab-Palestina, sambil berusaha melegitimasi-kan kehadiran orang Yahudi. Sejak awal Theodore Herzl sangat sadar bahwa komunitas Zionis membutuhkan suatu major power sebagai penaja. Usaha pertamanya ditujukan kepada Sultan Abdul Hamid II, suatu pilihan yang masuk akal, mengingat kesultanan Usmaniyah memegang kuasa mutlak atas Palestina. Bahkan sebelum secara resmi mendirikan Zionisme pada tahun 1897, Theodore Herzl pernah berkunjung ke Istambul pada tahun 1896 untuk memohon hibah tanah di Palestina dari Sultan dengan imbalan akan memberikan"bantuan keuangan untuk memulihkan kas kesultanan yang sedang kosong melalui jasa para finansier Yahudi". Lebih penting lagi, ialahusulnya yang ditulis sekembalinya dari kunjungan itu, memohon kepada sultan hak kaum Yahudi mendeportasikan penduduk aseli.
Sultan sangat tersinggung dan menolak permohonan itu, dan mengirimkan pesan yang menasehati Theodore Herzl, 'Jangan lagi membicarakan soal ini. Saya tidak dapat menyisihkan sejengkal tanahpun, karena tanah itu bukan milik saya, tetapi milik rakyat. Rakyat saya berjuang untuk mendapatkan tanah itu dan menyuburkannya dengan darah mereka. Biarkanlah orang Yahudi menyimpan duit mereka yang berjuta-juta banyaknya di peti mereka".
Gerakan Zionisme Internasional
Karena kebuntuan itu, pada tanggal 29 – 31 Agustus 1897 di Bazel, Switzerland, dilangsungkan Konperensi Zionisme Internasional ke-1, dihadiri oleh 204 orang tokoh-tokoh Yahudi dari 15 negara. Para peserta konvensi sepakat bahwa "Zionisme bertujuan untuk membangun sebuah Tanah Air bagi kaum Yahudi di Palestina yang dilindungi oleh undang-undang", dan untuk tujuan itu, mereka akan mendorong emigrasi ke Palestina. Mereka juga membahas prospek dan langkah-langkah politik dan ekonomi untuk pembentukan negara Yahudi di Palestina. Ketika kongres itu berakhir setelah berlangsung selama tiga hari, Theodore Herzl menorehkan di dalam buku hariannya, "Kalau saya harus menyimpulkan apa hasil dari kongres Bazel itu dalam satu kalimat singkat – yang tidak berani saya utarakan kepada publik – saya akan berkata : 'Di Bazel saya menciptakan negara Yahudi!' ".
Penggusuran Penduduk Arab-Palestina
Langkah-langkah yang akan ditempuh adalah pertama-tama pembelian tanah untuk para migran Yahudi, kemudian membuat orang Arab-Palestina tidak betah tinggal di Palestina, dan yang terakhir mengusir penduduk Arab-Palestina melalui terorisme. Untuk mendukung gagasan program migrasi orang Yahudi ke Palestina dan menyediakan tanah bagi mereka, maka dibentuklah beberapa lembaga keuangan, seperti: the Jewish Colonial Trust, the Anglo-Palestine Company, the Anglo-Palestine Bank, dan the Jewish National Fund.
Ketika Kongres Bazel pada 1897 itu berlangsung bangsa Arab-Palestina mencapai angka 95%, dan mereka menguasai 99% dari tanah Palestina. Jadi jelas sejak awal Zionisme bertujuan untuk menghapuskan kepemilikan dari tangan mayoritas Arab-Palestina, baik secara politik maupun fisik, merupakan suatu persyaratan yang tak dapat dihindari untuk dapat membentuk sebuah negara Yahudi. Dalam tujuan itu tidak hanya terbatas pada tanah, tetapi tanah tanpa penduduk lain ditengah-tengah mayoritas penduduk Yahudi.
Setelah kegagalannya dengan Sultan Abdul Hamid II, setahun setelah Kongres Zionisme Internasional ke-1 di Bazel, pada tahun 1898, Theodore Herzl mengalihkan perhatiannya kepada Jerman dan Kaizer Wilhelm II yang memiliki ambisi ke Timur Tengah. Theodore Herzl secara ketus memberi-tahukan orang Jerman, "Kami membutuhkan sebuah protektorat, dan Jerman kami anggap paling cocok bagi kami." Ia mengemukakan bahwa para pemimpin Zionisme adalah orang-orang Yahudi yang berbahasa Jerman. Jadi sebuah negara Yahudi di Palestina akan memperkenalkan budaya Jerman ke wilayah tersebut. Namun Kaizer menolak usul Theodore Herzl, sebab utamanya, ia tidak ingin menyinggung perasaan kesultanan Usmaniyah, yang merupakan langganan utama produk persenjataan Jerman, atau membuat murka kaum Kristen di dalam negeri.
Sementara itu pada tahun 1899 walikota Jerusalem Youssuf Zia Khalidi, seorang cendekiawan Palestina dan anggota parlemen Usmaniyah, menulis sepucuk surat yang diteruskan kepada Theodore Herzl, memperingatkan klaim Zionis terhadap Palestina. Bangsa Arab-Palestina secara khusus menentang tuntutan Zionisme yang didasarkan pada dalih bahwa orang Yahudi mempunyai hak atas Palestina hanya karena mereka pernah hidup dua millenia yang silam. Khalidi mencatat bahwa klaim kaum Zionis atas Palestina tidak dapat dilaksanakan mengingat tanah Palestina telah berada di bawah kekuasaan Islam selama tiga-belas abad terakhir dan bahwa orang muslim dan Kristen memiliki kepentingan yang sama mengingat tempat-tempat suci yangada. Lagipula ia menambahkan, penduduk mayoritas Arab-Palestina menentang penguasaan kaum Yahudi. Ketika Istambul memutuskan pada tahun 1901 untuk memberikan penduduk asing, yang pada intinya bermakna imigran baru Yahudi, hak yang sama untuk membeli tanah, sekelompok tokoh-tokoh terkemuka Arab-Palestina mengirim sebuah petisi ke ibukota Utsmaniyah memprotes kebijakan itu.
Di pihak Theodore Herzl tanpa mengenal putus-asa ia memalingkan mukanya ke Inggeris. Itu dilakukannya pada tahun 1902. Disini ia menemukan lahan yang subur. Ada tradisi di kalangan Kristen Protestan dan para penulis Inggeris sepanjang dua abad sebelumnya untuk mendukung "kembalinya orang Yahudi ke Palestina", tradisi yang juga bergerak ke Amerika Serikat. Lagi pula kepentingan Inggeris tentang keamanan Terusan Suez sebagai urat-nadi ke jajahan-jajahannya di TimurJauh telah menggiringnya untuk merebut Mesir pada tahun 1882, dan pengamanan Terusan Suez tetap merupakan fokus kepentingan London di wilayah tersebut. Mempunyai penduduk yang bersahabat di wilayah itu akan memberikan keuntungan yang tak terperikan bagi Inggeris.
Sebagaimana Jerman, Inggeris pun merasa tidak memiliki kepentingan berhadapan dengan Sultan, membuka dukungan Inggeris terhadap Palestina bukan hal yang menarik bagi Inggeris. Lalu Theodore Herzl meminta membuka hubungan dengan teritori Inggeris yang terdekat: Siprus, El Arish, atau Semenanjung Sinai. Menteri daerah jajahan Joseph Chamberlain mencoret Siprus, karena kehadiran Yahudi akan menimbulkan murka penduduk Yunani dan Turki, dan Mesir tidak disetujui, karena gubernur Inggeris setempat menentang memberikan tanah sejengkal pun dari wilayah Mesir. Lalu Chamberlain menyarankan sebuah teritori sebagai kompromi, kira-kira seluas Palestina di daerah Afrika Timur milik Inggeris. Meskipun pada waktu itu daerah itu dinamakan Uganda, wilayahnya kini kira-kira ada di Kenya.
Theodore Herzl bersuka-cita dengan tawaran itu. Menurut Herzl kalaubukan menjadi pengganti bagi Palestina, paling tidak berperan sebagai batu-loncatan. Tetapi saran itu berhadapan dengan badai protes dari kaum Zionis, terutama datang dari Rusia dan juga dari daerah-daerah jajahan Inggeris. Pada awal 1904 baik Theodore Herzl maupun Joseph Chamberlain dengan senang-hati bersepakat melupakan pikiran itu.
Pengalaman itu sangat menguntungkan bagi Zionisme. Sebuah koneksi penting telah terjalin dengan pejabat-pejabat tinggi pemerintahan Inggeris, suatu hubungan yang diramalkan Theodore Herzl dengan tepat, bahwa pada suatu saat akhirnya kelak akan membawa hasil yang nyata. Sebelum meninggalnya pada tanggal 3 Juli 1904 Theodore Herzl berkata kepada seorang kawan, "Anda akan lihat waktunya akan tiba Inggeris akan melakukan apa saja yang ada dalam kekuasaannya untuk menyerahkan Palestina kepada kita untuk berdirinya suatu negaraYahudi". Sesudah ini ambisi kaum Zionis difokuskan semata-mata pada Palestina sebagai tempat bagi negara Yahudi yang diharapkan.
Masyarakat Palestina tidak banyak mengetahui langkah-langkah yang ditempuh Theodre Herzl selama itu. Hubungan antara orang Arab-Palestina dengan orang Yahudi secara umum tetap cukup bersahabat sampai dengan Revolusi Turki Muda pada 1908. Menurut sejarawan Neville J. Mandel, "Menjelang malam Revolusi Turki Muda ... sentimen anti-Zionisme pada masyarakat Arab belum nampak. Sebaliknya, memang ada keresahan berkenaan dengan makin meluasnya masyarakat Yahudi di Palestina, dan penentangan yang kian meluas terhadap hal itu". Sejarawan Israeli, Gershon Shafir, menambahkan, "Revolusi Turki Muda pada bulan Juli 1908 harus dipandang sebagai permulaan dari konflik Yahudi-Arab secara terbuka, demikian juga lahirnya gerakan nasionalisme Arab".
Sebagian besar ketidak-pedulian masyarakat Arab-Palestina sampai tahun 1908 disebabkan oleh kenyataan bahwa para perintis Zionis berhasil menekankan bahwa permintaan mereka hanya tanah dan hubungan persahabatan, sambil tetap menutup tujuan yang sesungguhnya – mengusir orang Arab-Palestina. Sesuai buku-buku Theodore Herzl tentang perlunya tindakan "kehati-hatian dan kewaspadaan", bahkan di saat senja kala kolonialisme, gagasan yang berisi niat mengusir penduduk aseli setempat untuk memberikan ruang bagi imigran asing dianggap berbau terlalu sinis, sehingga para perintis Zionisme berupaya menghindarinya demi pertimbangan politik, serta demi kebutuhan untuk memelihara hubungan baik sehari-hari dengan jiran mereka. Sehingga rencana untuk mengusir orang Arab-Palestina itu kemudian secara eufimistik di kalangan kaum Zionis dan dunia luar dikenal sebagai "masalah pengalihan". Kepada publik, kaum Zionis menekankan betapa manfaat yang akan didapat oleh masyarakat Arab-Palestina dan kesultanan Usmaniyah dengan kehadiran imigran Yahudi yang baru, yang akan membawa serta bersama mereka modal, ilmu pengetahuan, dan hubungan dengan jaringan internasional.
Pengusiran Orang Arab-Palestina
Pada tahun 1905 Israel Zangwill, seorang organisator Zionisme di Inggeris dan salah seorang propagandis Zionisme terkemuka yang menciptakan slogan, "sebuah tanah air tanpa rakyat untuk rakyat tanpa tanah air", mengakui di Manchester, bahwa Palestina bukanlah tanah tanpa rakyat. Sebenarnya tanah itu dihuni oleh bangsa Arab, "(Kami) menyiapkan diri, untuk mengusir dengan pedang kabilah-kabilah (Arab) itu sebagaimana yang dilakukan nenek-moyang kami, atau menghadapi hadirnya penduduk asing dalam jumlah besar, terutama kaum Mohammedan yang selama berabad-abad terbiasa menghinakan kami". Komentar ini disuarakan pada waktu dimana ada 645.000 jiwa orang muslim dan Kristen di Palestina, sementara hanya ada 55.000 jiwa orang Yahudi, sebagian besar non-Zionis atau anti-Zionis, yang tinggal terutama di kawasan Orthodoks Jerusalem dan kota-kota lainnya.
David Ben-Gurion, tokoh yang bersama Theodore Herzl dan Chaim Weizmann, menjadi salah seorang penggagas negara Israel, dengan gamblang menjelaskan hubungan antara Zionisme dengan pengusiran sebagai berikut, "Zionisme adalah pemindahan orang Yahudi. Pemindahan orang Arab jauh lebih mudah daripada cara-cara lainnya." Atau, sebagaimana ditandaskan cendekiawan Israeli, Benjamin Beit Hallahmi, "Kalau masalah dasar yang dihadapi oleh Yahudi Diaspora adalah bagaimana bertahan hidup sebagai kaum minoritas, maka masalah dasar Zionisme di Palestina adalah bagaimana melenyapkan penduduk aseli dan menjadikan kaum Yahudi sebagai mayoritas".
Pada tahun 1914 menjelang Perang Dunia ke-1 ada kira-kira 604.000 jiwa penduduk Arab-Palestina dan hanya ada 85.000 orang Yahudi di Palestina, suatu kenaikan kira-kira 30.000 orang Yahudi dalam jangka waktu satu dasawarsa. Meskipun kenaikan itu relatif rendah, namun bagi sebagian besar orang Arab-Palestina makin jelas bahwa Zionisme merupakan suatu ancaman permanen yang kian meningkat, betapa pun lambannya perkembangannya. Kesadaran yang mulai tumbuh ini meluas di kalangan keluarga Arab-Palestina terkemuka, kaum cendekiawan, dan para pengusahanya. Setelah mendengarkan klaim kaum Zionis dan para perintisnya selama dua dasawarsa, banyak kalangan terkemuka Arab-Palestina menjelang Perang Dunia ke-1 mulai mengakuinya, jika sekiranya berhasil mencapai tujuan-tujuannya, Zionisme artinya tidak lain adalah penghapusan banyak atau seluruh masyarakat Arab-Palestina, baik muslim maupun Kristen.
Desakan penggusuran orang Arab-Palestina oleh imigran Yahudi menghidupkan angin nasionalisme Arab yang mulai bertiup merambah ke segenap dunia Arab, kegiatan politik meningkat di Palestina selama tahun 1908 – 1914. Sejumlah surat kabar dan organisasi politik lokal yang memperjuangkan hak-hak rakyat Arab bermunculan di masyarakat Arab-Palestina. Terlepas dari program mereka yang beragam, hampir semua kelompok tersebut memiliki garis yang sama, yakni anti-Zionisme. Sebuah selebaran tanpa nama di Jerusalem pada tahun 1914 menulis, "Saudara-saudara! Apakah kalian bersedia menjadi budakdan hamba sahaya dari suatu kaum yang terkenal jahatnya di dunia dan dalam sejarah? Maukah kalian menjadi budak dari mereka yang datang menemui kalian hanya untuk mengusir dari negeri kalian, dengan mengklaim bahwa tanah ini milik mereka?"
Ketika Perang Dunia ke-1 pecah, seluruh argumen Arab masih terusbergaung hingga hari ini, permusuhan Arab-Yahudi telah menjadi masalah permanen yang di kemudian hari membuatnya menjadi konflik terbuka.
Di antara aktivis muda Arab-Palestina terdapat seorang anak-belasantahun, Muhammad Amin Husseini, putera dari suatu keluarga kaya yang selama berabad-abad telah memegang kontrol atas berbagai kedudukan penting di bidang agama dan politik. Pada usia 13 tahun, pada tahun1913, Amin Husseini telah memimpin sebuah perkumpulan yang tidak berusia panjang dan mulai menulis selebaran yang menyerang kaum imigran Yahudi. Sebagai seorang nasionalis Arab yang masih baru, ia di kemudian hari akan menjadi musuh terbesar kaum Yahudi. Padatahun 1921, ketika berusia 21 tahun ia terpilih sebagai mufti Jerusalem,suatu jabatan yang telah diduduki oleh leluhurnya, kecuali untuk beberapa interupsi, selama berabad-abad sejak abad ke-17, jabatan yang menempatkan Amin Husseini sebagai pemimpin Arab-Palestina. Sejak saat itu sampai dengan berdirinya negara Israel, Husseini menggunakan segenap kemampuan dan bakatnya untuk mencegah kaum Zionis mendirikan negara mereka.
Amin Husseini dan kaum terkemuka Arab-Palestina lainnya tidaklah polos. Mereka telah bergulat berabad-abad lamanya dengan kesultanan Usmaniyah dan fasih dengan intrik-intrik halus istana, maupun bahaya dan keuntungan hubungan komunitas yang kompleks antara muslim, Kristen, Yahudi, Druze, dan lain-lain, yang hidup berdampingan dengan masyarakat Arab-Palestina. Meskipun mereka memperhitungkan ancaman Zionisme dan kekuatan mereka sendiri pada Perang Duniake-1, termasuk hak-hak mereka sebagai kelompok mayoritas dan kelemahan klaim kaum Zionis atas Palestina yang hanya didasarkan pada alasan pernah menghuni Palestina 2000 tahun yang silam, namun mereka kurang memiliki pemahaman yang rumit tentang dunia Barat. Mereka tidak mampu bersaing dengan pengaruh Yahudi di Inggeris dan Amerika Serikat, dan mereka memandang enteng kecenderungan kesejarahan di Barat yang mendukung berdirinya sebuah negara Yahudi.
Bagi kaum Zionis hanya tersisa dua strategi untuk merebut kekuasaan: men-delegitimasi-kan orang Arab-Palestina, dimana kaum Zionis telah sangat berhasil membuktikan selama beberapa tahun terakhir; dan melempar mereka melalui cara tidak membuka lapangan kerja, atau melalui pengusiran secara paksa. Untuk beberapa lama para perintis Zionisme perpegang pada kepercayaan bahwa orang Arab-Palestina akan dapat dikeluarkan melalui meniadakan lapangan kerja bagi mereka. Strategi itu kentara sekali bagi pengamat luar, seperti Komisi King-Crane dari Amerika Serikat yang menyerahkan laporan mereka tentang Palestina pada tahun 1919, "Kenyataan mencuat berulang-kali dalam perundingan Komisi dengan perwakilan Yahudi bahwa kaum Zionis berharap mengusir sepenuhnya secara praktis penduduk non-Yahudi yang ada di Palestina melalui berbagai cara pembelian tanah". Laporan itu menambahkan bahwa, "penduduk non-Yahudi berjumlah hampir 90 persen dari keseluruhan".
Kampanye untuk mengusir para petani Arab-Palestina dikerjakan atas nama Buruh Zionisme. Pada permukaannya tampak seolah-olah sebagai suatu kebijakan yang menguntungkan dan tidak berbahaya, ditujukan untuk merehabilitasi Yahudi "diaspora" yang secara stereotipik lemah ke dalam Yahudi Baru Palestina. Salah seorang pemimpin terkemuka Buruh Zionisme, Aharon David Gordon, menulis bahwa selama penyelamatan itu harus dijalankan melalui "karya oleh tangan kitasendiri", sambil ia menambahkan, "Kita harus merasakan apa yang dirasakan oleh buruh kita, berpikir apa yang dipikirkannya, hidup dengan cara hidupnya, dengan cara yaitu cara kita. Hanya dengan itu kita dapat meyakinkan bahwa kita memiliki budaya kita sendiri, dan hanya dengan itu kita akan dapat hidup".
Dalam lingkungan terbatas, "masalah pengalihan" penduduk Arab-Palestina tetap merupakan topik diskusi yang berlanjut di kalangan dalam majelis Zionisme selama setengah abad sampai dengan pengusiran secara besar-besaran orang Arab-Palestina pada tahun1948. Sementara di antara kaum Zionis ada oposisi terhadap gagasan"pengalihan" itu atas dasar kemanusiaan, tetapi logika Zionisme mengharuskan tidak ada pilihan lain daripada men-delegitimasi-kan mayoritas orang Arab-Palestina, atau mengatasi jumlah mereka untuk mencapai terbentuknya negara Yahudi. Tetapi mencapai suatu mayoritas Yahudi ternyata tidak realistik. Bahkan pada tahun 1947, setelah bermigrasi hampir enam dasawarsa, hanya ada 589.341 orang Yahudi di antara penduduk Arab-Palestina yang 1.908.775 orang. Majelis Zionisme memutuskan untuk mengatasi "masalah pengalihan" itu dengan menempuh jalan terorisme seraya menutupnya dengan aksi propaganda yang intensif.
Orang Arab-Palestina menempati kedudukan yang tidak menguntungkan dengan ketidak-mampuan mereka melawan propaganda Zionisme di Barat,yang menggambarkan orang Arab-Palestina sebagai kaum yang bodoh,kotor, anti-Kristen, yang tidak perlu didukung. Meski tidak terlalu berhasil pada saat itu mendirikan sebuah negara Yahudi, namun usaha itu sangat efektif men-delegitimasi-kan dan menteror orang Arab-Palestina.
Bersamaan dengan itu kaum Zionis menggunakan usaha apa saja untuk memperkuat stereotipe yang anti-Islam, semacam propaganda yang taksyak lagi pernah mereka lakukan sebelum Perang Salib. Palestina digambarkan sebagai makhluk yang culas dan kotor dalam berbagai laporan berita (kemudian film dan teve pada masa kini), serta dalam setiap seminar, pamflet, dan wawancara. Hal itu menjadi sebuah proses yang masih terus berlanjut sampai dengan masa kini, bahkan sesudah pengakuan timbal-balik Israel-PLO pada tahun 1993 di Oslo.
Perhatian yang luas dicurahkan untuk memahami bagaimana kaum Zionisawal berhasil merebut tanah Palestina, tetapi hanya relatif sedikit studi yang difokuskan dan menempatkan kaum mayoritas Arab-Palestina. Tanpa kekuasaan ada dalam tangan kaum Yahudi, kaum Zionis menyimpulkan nasib mereka tidak akan lebih baik daripada di Eropa, mengingat gerakan Zionisme tumbuh khususnya sebagai suatu cara untuk menghindarkan diri dari anti-Semitisme, pogrom, ghetto,dan status minoritas.
Akar dari Zionisme menyentuh jauh ke dalam psyche penderitaan orang Yahudi. Tetapi penyebab utama kemunculannya yang bermula pada penghujung abad ke-19 itu adalah terjadinya gelombang migrasi secara massif sebagai akibat diberlakukannya 'pogrom' di Rusia pada tahun1881 dan meluasnya sikap anti-Semitisme di seluruh Eropa Timur pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Perorangan, keluarga, dan bahkan seluruh komunitas Yahudi, melarikan diri untuk menghindari teror anti-Semitisme. Sampai dengan pecahnya Perang Dunia ke-1 pada tahun 1914, kira-kira 2,5 juta orang Yahudi meninggalkan Rusia dan negara-negara Eropa lainnya, sebagian besar dari mereka melarikan diri ke Barat, khususnya ke Amerika Serikat, Kanada, Amerika Latin, dan Australia. Dan kurang dari 1% pindah ke Palestina dan menetap disana. Pada intinya inilah alasan paling mendasar tentang Zionisme – keputus-asaan yang mendalam - ternyata anti-Semitisme tidak dapat dihilangkan selama orang Yahudi hidup di tengah-tengah masyarakat non-Yahudi.
Hal ini bukan perasaan yang umum terdapat pada orang Yahudi, terutama di antara kaum cendekiawan dan pebisnis yang telah berhasil berasimilasi di dalam masyarakat dengan sistem demokrasi Barat, atau telah mendapatkan rasa aman yang dijamin oleh hak kebebasan beragama. Sejatinya Zionisme tetap merupakan gerakan kelompok minoritas di antara kaum Yahudi sampai memasuki abad ke-20.
Ada juga kelompok anti-Zionisme yang cukup kuat dan vokal, sepertithe American Council for Judaism di Amerika Serikat pada dasa warsa 1950-an, yang menganggap "ke Jerusalem tanpa tuntunan Al-Masih adalah penyimpangan dari Taurat". Salah satu buah dari kemenangan Israel dalam Perang 1967 atas bangsa-bangsa Arab ialah penerimaan final atas Zionisme sebagai makna politik oleh hampir segenap masyarakat Yahudi sejak itu.
Bahkan pada masa bayinya Zionisme telah menikmati dukungan kuat baik dari London maupun Washington. Terlebih-lebih adanya masalah sosial yang ditimbulkan oleh migrasi orang Yahudi secara massif, meyakinkan para pemimpin Barat untuk mendukung gagasan adanya negara Yahudi. Hal itu dikarenakan banjirnya emigran Yahudi yang meminta suaka ke negara-negara tersebut begitu besar jumlahnya dari tahun ke tahun, sampai-sampai suatu ketika hal itu memicu berbagai kerusuhan anti-imigrasi di London, dan menuntut undang-undang imigrasi yang restriktif baik di Inggeris maupun di Amerika Serikat.
Pembentukan negara Yahudi merupakan jalan keluar untuk meniadakan imigran Yahudi, dan dengan itu sekaligus menenangkan badai politik berkenaan dengan undang-undang imigrasi. Bahwa tidak banyak pertimbangan yang dipikirkan oleh para politisi terhadap dampak yang dapat timbul terhadap penduduk Arab-Palestina tidaklah mengherankan dalam lingkungan pada masa itu.
Di Palestina sendiri, kesultanan Utsmaniyah yang telah memerintah Palestina selama 400 tahun, bukannya tidak menyadari akan bahaya terhadap tata yang telah ada dihadapkan dengan kemungkinan imigrasi Yahudi yang tak-terbatas. Meskipun hanya ada 60.000 orang dari 2,5 juta yang melarikan diri dari Eropa Timur yang menjadi penduduk menetap di Palestina sampai dengan Perang Dunia ke-1, bahkan jumlah sekecil itu pun merasa sebagai orang-orang yang tidak disenangi. (BERSAMBUNG...)
No comments:
Post a Comment